Senin, 09 Januari 2012

Bahasa Melayu Riau To bahasa resmi PBB


Bahasa Melayu Riau to Bahasa Resmi PBB

Baru saja saya membaca sebuah berita di RiauTerkini.Com yang mengabarkan bahwa "Pemprov Riau Usulkan Bahasa Melayu Sebagai Bahasa Resmi PBB" Ini sebuah kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Melayu Riau ketika Bahasa Melayu Riau diajukan untuk bahasa resmi ke tujuh(7) di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal ini diajukan kembali Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau. Saat ini, badan dunia itu telah memiliki enam bahasa resmi, yakni Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, China dan Arab.
Tien Marni, Kepala Bidang Nilai Budaya, Bahasa dan Seni Disbudpar Riau menyebutkan sebenarnya usulan tersebut merupakan rekomendasi konvensi Bahasa di perhelatan Festival Budaya Melayu se Dunia di Pekanbaru, tiga tahun lalu (2007). Untuk mencapai niat itu persiapan telah dilakukan secara matang. Salah satunya dengan membentuk tim khusus yang akan menindaklanjuti dan meneliti mengapa usulan tersebut menjadi terhenti selama tiga tahun lebih. (Semoga saja ini tidak sekedar hangat-hangat taik ayam)
Dalam hal ini Bahasa Melayu Riau yang diajukan sebagai bahasa pengantar di PBB ini tidak menyebutkan spesifik bahasa Melayu Riau (Bahasa Indonesia). Tetapi dalam Festival Budaya Melayu yang digelar di Bandar Seni Raja Ali Haji Pekanbaru, semua utusan dari negara-negara jiran seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam tidak keberatan jika kelak PBB menggunakan Bahasa Melayu Riau sebagai bahasa resmi PBB.
Karena Bahasa Melayu yang digunakan di Indonesia sangat mirip dengan Bahasa Melayu yang digunakan masyarakat Melaysia, Singapura, Brunei dan negara lainnya. Untuk mempersiapkan Bahasa Melayu Riau dijadikan bahasa pengantar di PBB, Pemprov Riau telah membuat beberapa arsip kebudayaan dan bahasa seperti membuat Etimologi Melayu, Ensklopedi Bahasa Melayu, Atlas Bahasa Melayu, Kamus Bahasa Melayu, Ekpedisi Kebudayaan Empat Sungai di Riau.
Khusus untuk ekspedisi budaya, dua di antaranya sudah dirampungkan. Tujuan dari ekspedisi ini tidak lain untuk melihat asal usul kebudayaan Melayu. Dari hasil itu nanti diketahui posisi Melayu Riau di mana, baik di masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Dan dari hasil ekpedisi itu nanti memperkuat bahasa Bahasa Melayu yang akan dipakai di PBB itu adalah Melayu Riau.
Usulan menjadikan Bahasa Melayu menjadi bahasa resmi PBB dianggap sudah layak mengingat saat ini terdapat 400 juta lebih bangsa di dunia yang menggunakan bahasa ini. Dari negara serantau (ASEAN) hingga ke Madagaskar. Dari bangsa-bangsa yang menggunakan Bahasa Melayu ini yang paling banyak adalah Indonesia
Saya berharap ini tidak hanya sampai disitu, karena untuk melestarikan Benda Cagar Budaya saja supaya bentuk aslinya tetap terjaga mereka tidak bisa, studi kasus Musnahnya Masjid Raya Pekanbaru.

Bahasa Melayu Riau menjadi bahasa resmi negara


Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, bahasa Indonesia adalah bahasa kerja (working language).

Dari sudut pandang linguistika, bahasa Indonesia adalah suatu varian bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau dari abad ke-19, namun mengalami perkembangan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja dan proses pembakuan di awal abad ke-20. Hingga saat ini, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

Meskipun saat ini dipahami oleh lebih dari 90% warga Indonesia, bahasa Indonesia tidak menduduki posisi sebagai bahasa ibu bagi mayoritas penduduknya. Sebagian besar warga Indonesia berbahasa daerah sebagai bahasa ibu. Penutur bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Namun demikian, bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di surat kabar, media elektronika, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya sehingga dapatlah dikatakan bahwa bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.

Fonologi dan tata bahasa bahasa Indonesia dianggap relatif mudah. Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu.

Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern.

Kerajaan Sriwijaya (dari abad ke-7 Masehi) memakai bahasa Melayu (sebagai bahasa Melayu Kuno) sebagai bahasa kenegaraan. Hal ini diketahui dari empat prasasti berusia berdekatan yang ditemukan di Sumatera bagian selatan peninggalan kerajaan itu. Pada saat itu bahasa Melayu yang digunakan bertaburan kata-kata pinjaman dari bahasa Sanskerta. Sebagai penguasa perdagangan di kepulauan ini (Nusantara), para pedagangnya membuat orang-orang yang berniaga terpaksa menggunakan bahasa Melayu, walaupun secara kurang sempurna. Hal ini melahirkan berbagai varian lokal dan temporal, yang secara umum dinamakan bahasa Melayu Pasar oleh para peneliti. Penemuan prasasti berbahasa Melayu Kuno di Jawa Tengah (berangka tahun abad ke-9) dan di dekat Bogor (Prasasti Bogor) dari abad ke-10 menunjukkan adanya penyebaran penggunaan bahasa ini di Pulau Jawa. Keping Tembaga Laguna yang ditemukan di dekat Manila, Pulau Luzon, berangka tahun 900 Masehi juga menunjukkan keterkaitan wilayah itu dengan Sriwijaya.

Kajian linguistik terhadap sejumlah teks menunjukkan bahwa paling sedikit terdapat dua dialek bahasa Melayu Kuno yang digunakan pada masa yang berdekatan. Sayang sekali, bahasa Melayu Kuna tidak meninggalkan catatan dalam bentuk kesusasteraan meskipun laporan-laporan dari Tiongkok menyatakan bahwa Sriwijaya memiliki perguruan agama Buddha yang bermutu.

Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bentuk resmi bahasa Melayu karena dipakai oleh Kesultanan Malaka, yang kelak disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya. Alfred Russel Wallace menuliskan di Malay Archipelago bahwa "penghuni Malaka telah memiliki suatu bahasa tersendiri yang bersumber dari cara berbicara yang paling elegan dari negara-negara lain, sehingga bahasa orang Melayu adalah yang paling indah, tepat, dan dipuji di seluruh dunia Timur. Bahasa mereka adalah bahasa yang digunakan di seluruh Hindia Belanda." Selanjutnya, Jan Huyghen van Linschoten, di dalam buku Itinerario ("Perjalanan") karyanya, menuliskan bahwa "Malaka adalah tempat berkumpulnya nelayan dari berbagai negara. Mereka lalu membuat sebuah kota dan mengembangkan bahasa mereka sendiri, dengan mengambil kata-kata yang terbaik dari segala bahasa di sekitar mereka. Kota Malaka, karena posisinya yang menguntungkan, menjadi bandar yang utama di kawasan tenggara Asia, bahasanya yang disebut dengan Melayu menjadi bahasa yang paling sopan dan paling pas di antara bahasa-bahasa di Timur Jauh."

Kongres Bahasa Indonesia pertama telah menetapkan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau, begitu pula dengan negara serumpun lain seperti Malaysia mengakui bahwa bahasa Melayu standar adalah bahasa Melayu Riau-Johor.       


Sumber  :  http://clubbing.kapanlagi.com

Senin, 02 Januari 2012

Sejarah Masa Lalu Bahasa Melayu_faren


Sejarah
Masa lalu bahasa Melayu
Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia (rumpun bahasa yang sangat luas penyebarannya di dunia) dari cabang bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi, yang digunakan sebagai lingua franca ("bahasa pengantar" atau "bahasa pergaulan" di suatu tempat di mana terdapat penutur bahasa yang berbeda-beda) di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern.
Aksara pertama dalam bahasa Melayu atau Jawi ditemukan di pesisir tenggara Pulau Sumatera, mengindikasikan bahwa bahasa ini menyebar ke berbagai tempat di Nusantara dari wilayah ini, berkat penggunaannya oleh Kerajaan Sriwijaya yang menguasai jalur perdagangan. Istilah Melayu atau sebutan bagi wilayahnya sebagai Malaya sendiri berasal dari Kerajaan Malayu yang bertempat di Batang Hari, Jambi, dimana diketahui bahasa Melayu yang digunakan di Jambi menggunakan dialek "o" sedangkan dikemudian hari bahasa dan dialek Melayu berkembang secara luas dan menjadi beragam.
Istilah Melayu atau Malayu berasal dari Kerajaan Malayu, sebuah kerajaan Hindu-Budha pada abad ke-7 di hulu sungai Batanghari, Jambi di pulau Sumatera, jadi secara geografis semula hanya mengacu kepada wilayah kerajaan tersebut yang merupakan sebagian dari wilayah pulau Sumatera. Dalam perkembangannya pemakaian istilah Melayu mencakup wilayah geografis yang lebih luas dari wilayah Kerajaan Malayu tersebut, mencakup negeri-negeri di pulau Sumatera sehingga pulau tersebut disebut juga Bumi Melayu seperti disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama.
Ibukota Kerajaan Melayu semakin mundur ke pedalaman karena serangan Sriwijaya dan masyarakatnya diaspora keluar Bumi Melayu, belakangan masyarakat pendukungnya yang mundur ke pedalaman berasimilasi ke dalam masyarakat Minangkabau menjadi klan Malayu (suku Melayu Minangkabau) yang merupakan salah satu marga di Sumatera Barat. Sriwijaya berpengaruh luas hingga ke Filipina membawa penyebaran Bahasa Melayu semakin meluas, tampak dalam prasasti Keping Tembaga Laguna.
Bahasa Melayu kuno yang berkembang di Bumi Melayu tersebut berlogat "o" seperti Melayu Jambi, Minangkabau, Kerinci, Palembang dan Bengkulu. Semenanjung Malaka dalam Nagarakretagama disebut Hujung Medini artinya Semenanjung Medini.
Dalam perkembangannya orang Melayu migrasi ke Semenanjung Malaysia (= Hujung Medini) dan lebih banyak lagi pada masa perkembangan kerajaan-kerajaan Islam yang pusat mandalanya adalah Kesultanan Malaka, istilah Melayu bergeser kepada Semenanjung Malaka (= Semenanjung Malaysia) yang akhirnya disebut Semenanjung Melayu atau Tanah Melayu. Tetapi nyatalah bahwa istilah Melayu itui berasal dari Indonesia. Bahasa Melayu yang berkembang di sekitar daerah Semenanjung Malaka berlogat "e".
Kesultanan Malaka dimusnahkan oleh Portugis tahun 1512 sehingga penduduknya diaspora sampai ke kawasan timur kepulauan Nusantara. Bahasa Melayu Purba sendiri diduga berasal dari pulau Kalimantan, jadi diduga pemakai bahasa Melayu ini bukan penduduk asli Sumatera tetapi dari pulau Kalimantan. Suku Dayak yang diduga memiliki hubungan dengan suku Melayu kuno di Sumatera misalnya Dayak Salako, Dayak Kanayatn (Kendayan), dan Dayak Iban yang semuanya berlogat "a" seperti bahasa Melayu Baku.
Penduduk asli Sumatera sebelumnya kedatangan pemakai bahasa Melayu tersebut adalah nenek moyang suku Nias dan suku Mentawai. Dalam perkembangannya istilah Melayu kemudian mengalami perluasan makna, sehingga muncul istilah Kepulauan Melayu untuk menamakan kepulauan Nusantara.
Secara sudut pandang historis juga dipakai sebagai nama bangsa yang menjadi nenek moyang penduduk kepulauan Nusantara, yang dikenal sebagai rumpun Indo-Melayu terdiri Proto Melayu (Melayu Tua/Melayu Polinesia) dan Deutero Melayu (Melayu Muda). Setelah mengalami kurun masa yang panjang sampai dengan kedatangan dan perkembangannya agama Islam, suku Melayu sebagai etnik mengalami penyempitan makna menjadi sebuah etnoreligius (Muslim) yang sebenarnya didalamnya juga telah mengalami amalgamasi dari beberapa unsur etnis.
M. Muhar Omtatok, seorang Seniman, Budayawan dan Sejarahwan menjelaskan sebagai berikut: "Melayu secara puak (etnis, suku), bukan dilihat dari faktor genekologi seperti kebanyakan puak-puak lain. Di Malaysia, tetap mengaku berpuak Melayu walau moyang mereka berpuak Jawa, Mandailing, Bugis, Keling dan lainnya. Beberapa tempat di Sumatera Utara, ada beberapa Komunitas keturunan Batak yang mengaku Orang Kampong - Puak Melayu
Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 Masehi diketahui memakai bahasa Melayu (sebagai bahasa Melayu Kuna) sebagai bahasa kenegaraan. Lima prasasti kuna yang ditemukan di Sumatera bagian selatan peninggalan kerajaan itu menggunakan bahasa Melayu yang bertaburan kata-kata pinjaman dari bahasa Sanskerta, suatu bahasa Indo-Eropa dari cabang Indo-Iran. Jangkauan penggunaan bahasa ini diketahui cukup luas, karena ditemukan pula dokumen-dokumen dari abad berikutnya di Pulau Jawa[10] dan Pulau Luzon.[11] Kata-kata seperti samudra, istri, raja, putra, kepala, kawin, dan kaca masuk pada periode hingga abad ke-15 Masehi.
Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bahasa Melayu Klasik (classical Malay atau medieval Malay). Bentuk ini dipakai oleh Kesultanan Melaka, yang perkembangannya kelak disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya.[rujukan?] Laporan Portugis, misalnya oleh Tome Pires, menyebutkan adanya bahasa yang dipahami oleh semua pedagang di wilayah Sumatera dan Jawa. Magellan dilaporkan memiliki budak dari Nusantara yang menjadi juru bahasa di wilayah itu. Ciri paling menonjol dalam ragam sejarah ini adalah mulai masuknya kata-kata pinjaman dari bahasa Arab dan bahasa Parsi, sebagai akibat dari penyebaran agama Islam yang mulai masuk sejak abad ke-12. Kata-kata bahasa Arab seperti masjid, kalbu, kitab, kursi, selamat, dan kertas, serta kata-kata Parsi seperti anggur, cambuk, dewan, saudagar, tamasya, dan tembakau masuk pada periode ini. Proses penyerapan dari bahasa Arab terus berlangsung hingga sekarang.
Kedatangan pedagang Portugis, diikuti oleh Belanda, Spanyol, dan Inggris meningkatkan informasi dan mengubah kebiasaan masyarakat pengguna bahasa Melayu. Bahasa Portugis banyak memperkaya kata-kata untuk kebiasaan Eropa dalam kehidupan sehari-hari, seperti gereja, sepatu, sabun, meja, bola, bolu, dan jendela. Bahasa Belanda terutama banyak memberi pengayaan di bidang administrasi, kegiatan resmi (misalnya dalam upacara dan kemiliteran), dan teknologi hingga awal abad ke-20. Kata-kata seperti asbak, polisi, kulkas, knalpot, dan stempel adalah pinjaman dari bahasa ini.
Bahasa yang dipakai pendatang dari Cina juga lambat laun dipakai oleh penutur bahasa Melayu, akibat kontak di antara mereka yang mulai intensif di bawah penjajahan Belanda. Sudah dapat diduga, kata-kata Tionghoa yang masuk biasanya berkaitan dengan perniagaan dan keperluan sehari-hari, seperti pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke, dan cukong.
Jan Huyghen van Linschoten pada abad ke-17 dan Alfred Russel Wallace pada abad ke-19 menyatakan bahwa bahasa orang Melayu/Melaka dianggap sebagai bahasa yang paling penting di "dunia timur". Luasnya penggunaan bahasa Melayu ini melahirkan berbagai varian lokal dan temporal. Bahasa perdagangan menggunakan bahasa Melayu di berbagai pelabuhan Nusantara bercampur dengan bahasa Portugis, bahasa Tionghoa, maupun bahasa setempat. Terjadi proses pidginisasi di beberapa kota pelabuhan di kawasan timur Nusantara, misalnya di Manado, Ambon, dan Kupang. Orang-orang Tionghoa di Semarang dan Surabaya juga menggunakan varian bahasa Melayu pidgin. Terdapat pula bahasa Melayu Tionghoa di Batavia. Varian yang terakhir ini malah dipakai sebagai bahasa pengantar bagi beberapa surat kabar pertama berbahasa Melayu (sejak akhir abad ke-19).[13] Varian-varian lokal ini secara umum dinamakan bahasa Melayu Pasar oleh para peneliti bahasa.
Terobosan penting terjadi ketika pada pertengahan abad ke-19 Raja Ali Haji dari istana Riau-Johor (pecahan Kesultanan Melaka) menulis kamus ekabahasa untuk bahasa Melayu. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa bahasa ini adalah bahasa yang full-fledged, sama tinggi dengan bahasa-bahasa internasional pada masa itu, karena memiliki kaidah dan dokumentasi kata yang terdefinisi dengan jelas.
Hingga akhir abad ke-19 dapat dikatakan terdapat paling sedikit dua kelompok bahasa Melayu yang dikenal masyarakat Nusantara: bahasa Melayu Pasar yang kolokial dan tidak baku serta bahasa Melayu Tinggi yang terbatas pemakaiannya tetapi memiliki standar. Bahasa ini dapat dikatakan sebagai lingua franca, tetapi kebanyakan berstatus sebagai bahasa kedua atau ketiga. Kata-kata pinjaman.


Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia

Kamis, 22 Desember 2011

Profil Provinsi Riau

 


provinsi riauProvinsi Riau terletak di Jantung pulau Sumatera. Luas wilayah provinsi ini adalah 111.228,65 Km persegi, terdiri atas daratan, pulau dan laut. Daerah ini memiliki iklim tropis basah dengan rata-rata curah hujan antara 2000-3000 milimeter per tahun dan dipengaruhi musim kemarau dan musim hujan.
Provinsi Riau kaya akan sumber daya alam, mulai dari minyak dan gas bumi, batu bara, emas, dan lain-lain. Selain itu Riau juga kaya akan potensi perkebunan, seperti karet dan sawit.
Provinsi Riau yang juga terkenal dengan istilah Bumi Melayu Lancang Kuning ini memiliki beragam suku bangsa dan bahasa. Suku Melayu, Bugis, Minang Kabau, Jawa, Batak, Sunda, Makassar hingga Tionghoa. Dari segi bahasa, Riau kaya akan bahasa. Bahasa Melayu mendominasi bahasa yang ada di daerah ini. Bahasa Melayu di Riau sendiri juga terdiri dari berbagai macam dialek Melayu lokal. Selain bahasa Melayu, Bahasa Indonesia dan Hokian juga banyak digunakan di Riau, di luar bahasa yang digunakan oleh masing-masing suku bangsa.
Secara administrasi, Provinsi Riau memiliki 12 Kabupaten/kota.
  1. Kota Pekanbaru dengan ibukota Pekanbaru. Kota Pekanbaru juga merupakan ibukota Provinsi Riau.
  2. Kota Dumai dengan ibukota Dumai.
  3. Kabupaten Bengkalis dengan ibukota Bengkalis.
  4. Kabupaten Indragiri Hilir dengan ibukota Tembilahan.
  5. Kabupaten Indragiri Hulu dengan ibukota Rengat.
  6. Kabupaten Kampar dengan ibukota Bangkinang.
  7. Kabupaten Siak dengan ibukota Siak Sri Indrapura.
  8. Kabupaten Pelelawan dengan ibukota Pangkalan Kerinci.
  9. Kabupaten Rokan Hilir dengan ibukota Bagan Siapiapi.
  10. Kabupaten Rokan Hulu dengan ibukota Pasir Pengarayan.
  11. Kabupaten Kuantan Singingi dengan ibukota Teluk Kuantan.
  12. Kabupaten Kepulauan Meranti dengan ibukota Selat Panjang.
Provinsi Riau juga merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang langsung berbatasan dengan negara tetangga Malaysia. Karena itu, di Riau, beberapa jalur transportasi udara dan laut melayani rute langsung ke negara tersebut.

Sumber  : Riau Magazine

Ritual Pengobatan Tradisional Belian

Ritual Pengobatan Tradisional BELIAN
Tukang Racik Limau sedang mempersiapkan properti Belian

Ritual pengobatan tradisional Belian adalah sebuah ritual pengobatan secara tradisional dan mistis yang berasal dari desa Segati, kec. Langgam, Kab Pelalawan. Saat ini, ritual pengobatan ini tidak pernah dijumpati lagi. Karena, masyarakat sudah mulai melakukan pengobatan medis di puskesmas atau rumah sakit.
Sebelum tahun 70an, saat fasilitas kesehatan belum dikenal oleh masyarakat di pelosok kampung, maka ritual pengobatan tradisional menjadi pilihan bagi mereka. Termasuk Belian.
Namun saat ini ritual pengobatan yang menggunakan kekuatan mistis sebagai penyembuh orang yang sakit ini hanya dimunculkan sebagai sebuah pertunjukan kesenian.
Dalam ritual pengobatan Belian, dikenal istilah-istilah seperti Kemantan yang menjadi pemimpin ritual, Bujang Kemayu yang tugasnya mengiringi ritual dengan nyanyian, Bujang Ketabung sang pemain gendang, serta Tukang Racik Limau. Masing-masing mempunyai tugas yang saling berkaitan dan saling mendukung demi kelancaran ritual ini.


Properti yang digunakan dalam ritual Belian

Belian dimulai dengan mempersiapkan properti yang akan digunakan untuk ritual ini. Yang bertugas mempersiapkan segala kebutuhan ritual adalah Tukang Racik Limau. Ia menyiapkan lilin, limau, gendang, Puan (Daun Kelapa atau janur), serta Lancang Tangguk Alam ( Batang Kelubi yang dibentuk seperti perahu/lancang). Tukang Racik Limau mulai menyusun perlengkapan sedemikian rupa, mengusap gendang yang akan digunakan dengan limau.


Bujang Ketabung memainkan gendang selama berlangsungnya ritual Belian

Kemantan membaca mantra dalam ritual Belian

Setelah semua perlengkapan siap, barulah Kemantan tadi melafalkan mantra-mantra untuk berkomunikasi dengan makhluk ghaib yang akan membantu pengobatan. Bersamaan dengan ini, Bujang Kemayu dan Bujang Ketabung mulai menyanyikan lagu-lagu mantra dan diiringi gendang.
Tak berapa lama kemudian, Kemantan terlihat semakin keras membaca mantra. Sepertinya kesadarannya mulai berkurang dan mulai memasuki alam gaib. Kemudian ia mulai berdiri dan berjalan sambil menari-nari mengitari area ritual. Ia membunyikan lonceng yang ada di pergelangan tangannya dan sesekali menaburkan kembang yang diberikan oleh asistennya. Aktivitas ini menggambarkan sang Kemantan tengah menjemput roh halus atau roh para leluhur yang diharapkan bisa membantu pengobatan. Semakin lama jalan sang dukun semakin cepat dan nyaris seperti orang berlari. Ini pertanda roh halus yang dijemput tadi telah memasuki tubuh sang dukun. Menurut cerita, pada saat seperti ini, beberapa orang harus bersiaga untuk menjaga agar Kemantan tidak terjatuh, atau justru dibawa lari oleh makhluk halus yang merasukinya.


Kemantan yang dirasuki roh halus menari mengitari area ritual Belian

Cukup lama Kemantan melakukan putaran tersebut hingga kemudian Ia kembali duduk di posisinya semula sambil terus membunyikan lonceng, menabur kembang dan melafalkan mantra. Sampailah saatnya prosesi pengobatan dimulai. Pasien duduk dekat Kemantan. Sambil terus melafalkan mantra, sang dukun kemudian berdiri dan mengusap-usap kepala pasien. Pada saat ini lilin digunakan. Meletakkan lilin yang ditaruh di atas tempurung kelapa ke ubun-ubun sang pasien. Ia juga meniup ubun-ubun sambil melafalkan mantra.

Kemantan menghembus kepala pasien sambil mengucap mantra untuk pengobatan

Tabuhan gendang dan nyanyian dari Bujang Kemayu dan Bujang Ketabung masih terus terdengar. Setelah selesai mengobati pasien, Kemantan kembali mengitari tempat ritual sambil membaca mantra dan membunyikan lonceng. Persis sama seperti yang dilakukannya sebelum pengobatan. Pada saat ini sang dukun bermaksud mengantar kembali roh halus yang memasukinya tadi. Tak lupa iya menaburkan kembang sebagai bentuk terima kasih telah membantu ritual pengobatan tersebut.
Menurut cerita, durasi ritual pengobatan tradisional Belian yang sebenarnya bisa berjam-jam atau bahkan dari malam hingga pagi hari. Namun sebagai bahan pertunjukan seni, ritual ini dilaksanakan hanya sekitar setengah jam.
Saat ini di desa Segati, yang masih bisa melakukan ritual pengobatan ini tidak banyak. Bahkan mungkin bisa dihitung dengan jari. Salah satunya adalah Kemantan yang tampil dalam pertunjukan kali ini. Kemampuan ritual Belian ini sendiri sebenarnya terus diturunkan dari generasi ke generasi. Namun karena ritualnya sendiri tidak pernah digunakan lagi, maka satu persatu para dukun di desa ini meninggalkan profesinya.
Pertunjukan ritual pengobatan tradisional Belian yang kami saksikan dalam pentas seni Tirta Bono di desa teluk meranti beberapa waktu lalu ini merupakan pertama kalinya ritual ini dipertunjukkan ke publik sebagai sebuah pertunjukan seni. Menurut pimpinan tim kesenian, tujuannya adalah agar tradisi ini tidak punah dimakan zaman.

Sumber : Riau Magazine

Jalur Transportasi ke Riau


Sebagai ibukota provinsi, Pekanbaru menjadi salah satu pintu gerbang masuknya para pendatang ke Riau. Di Pekanbaru terdapat tiga fasilitas transportasi yang bisa digunakan. Yaitu melalui transportasi darat, air (Laut), dan udara.

Jalur Transportasi Darat ke Riau

Terminal Bandar Raya Payung Sekaki adalah terminal yang terdapat di kota Pekanbaru. Setiap harinya terminal ini melayani bus-bus besar dan kecil yang melayani rute dari dan ke Pekanbaru. Berbagai tujuan mulai dalam provinsi sampai ke luar provinsi dan pulau Jawa dapat dilayani di sini. Terminal Bandar Raya Payung Sekaki terdapat di Jl Tuanku Tambusai Pekanbaru. Untuk mendapatkan informasi tentang terminal ini, anda bisa menghubungi +62761 7047979.

Jalur Transportasi Air (Laut) ke Riau

Di Pekanbaru terdapat pelabuhan dengan nama Pelabuhan Sungai Duku. Setiap harinya pelabuhan ini melayani kapal-kapal yang berangkat dan berlabuh di Pekanbaru. Kapal-kapal yang datang ke pelabuhan ini berasal dari dalam dan luar negeri. Untuk dalam negeri, kapal-kapal tersebut datang dari Batam, Selat Panjang, Tanjung Balai Karimun, dan lain-lain. Sementara untuk rute internasional, di pelabuhan Sungai Duku juga terdapat kapal yang menuju ke Melaka, Malaysia. Untuk mendapatkan informasi tentang pelabuhan Sungai Duku.

Jalur Transportasi Udara ke Riau

Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II terdapat di Pekanbaru. Bandar udara ini termasuk bandar udara yang tersibuk di Indonesia. Setiap harinya bandar udara ini melayani penerbangan domestik dan internasional. Rute-rute domestik yang dilayani di bandara ini seperti ke Batam, Tanjung Pinang, Medan, dan Jakarta. Sementara untuk rute internasionalnya, Bandara ini melayani penerbangan ke Kuala Lumpur, Subang dan Melaka di malaysia. Untuk mendapatkan informasi tentang Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II ini, anda bisa menghubungi nomor +62761 674694
Selain melalui kota Pekanbaru, untuk mencapai provinsi Riau, juga bisa melalui beberapa alternatif daerah tujuan seperti Dumai dan Bengkalis yang juga memiliki pelabuhan laut, atau daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan provinsi tetangga seperti Kabupaten Kampar yang berbatasan dengan Sumatera barat.
image source: RiauDailyPhoto.com

Sumber : Riau Magazine

Kesenian Riau sebagai Titik Memulai

Riau menjadikan kesenian sebagai titik memulai (starting point) dengan memposisikan unsur kesenian sebagai inti lingkaran unsur-unsur kebudayaan, dan memposisikan unsur kebudayaan lainnya di lingkar luar yang saling mengait dengan lingkar inti. Sebagai inti, kesenian Riau dapat dipandang sebagai spirit terhadap siklus kehidupan orang-orang Melayu, karena unsur-unsur seni menyusup dan menghiasi hampir semua tatanan kehidupan orang-orang Melayu. Unsur seni dapat ditemukan berhubung-kait dengan sistem religius (kepercayaan). Setiap seni bagi orang Riau adalah produk gagasan, dan gagasan selalu bersumbu pada keyakinan akan sesuatu yang mutlak. Seni-seni Melayu adalah seni-seni yang terikat kepada kepercayaan ketuhanan, dan untuk sebagian besar kewujudannya bahkan mengekspresikan sekaligus memperteguh kepercayaan itu, seperti tergambar dalam sejumlah syair dan hikayat didaktik-religius Islam yang populer di tengah-tengah masyarakat Melayu.
kesenian melayu riau
kesenian melayu riau
Syair, hikayat, kayat, legenda-legenda, berbagai nyanyian rakyat, dan seluruh kekayaan tradisi lisan dan tertulis Melayu menampilkan unsur seni yang berada dalam siklus (pusaran) bahasa. Sedangkan kaitannya dengan sistem teknologi, terdapat dalam berbagai corak seni-bina (arsitektur), tenunan, dan kerajinan, yang menampilkan ornamen-ornamen serta corak-ragi yang khas. Unsur kesenian yang mengait dengan sistem pengetahuan sebagian besar terbangun dari hubungan dialogis manusia dengan alam (tumbuhan dan hewan), yang telah mengilhami lahirnya pengetahuan orang-orang Melayu Riau tentang ramuan dan obat-obatan, ilmu lebah, ilmu padi, dan sebagainya, yang tampil dalam berbagai bentuk ekspresi seni. Dalam kaitannya dengan sistem organisasi kemasyarakatan, kesenian tampil mengusung tataran nilai-nilai, norma-norma, dan pantang-larang sebagai pedoman hidup bermasyarakat. Upacara-upacara adat yang menjadi ekspresi ikatan sosial dengan nilai-nilai dan norma-norma sosial tersebut juga hadir dalam wujud yang estetis dan sukar dipisahkan dengan ekspresi-ekspresi seni. Sedangkan dengan sistem mata pencaharian, kesenian terhubung secara erat dengan siklus perekonomian yang digeluti orang Melayu. Melalui berbagai genre seni pertunjukan dan sastra, misalnya, batobo yang hadir sebagai seni fungsional dalam peristiwa ekonomis gotong royong, dan sangat nyata dalam peristiwa ekonomi “Tapan Lapan”. Istilah ini merupakan sebutan khusus untuk menjelaskan kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh orang Melayu yang menunjukkan jenis pekerjaan sebagai sumber pendapatan keluarga Melayu.
Sumber :
Riau Tanah Air Kebudayaan Melayu
Elmustian Rahman dkk
Departemen Pendidikan Nasional
Nov 2009

Pramuka SMA Negeri 1 Singkep Barat Raih Prestasi Gemilang di Kemsar Budaya 2025

  Pramuka SMA Negeri 1 Singkep Barat Raih Prestasi Gemilang di Kemsar Budaya 2025 Lingga — Regu Pramuka SMA Negeri 1 Singkep Barat meno...