Selasa, 17 April 2012

Faren Malay : MELAYU KONSEPSI. fAREN MALAY




Oleh : Ellyzan Katan

Tamadun Melayu mengenal konsepsi tentang patut; posisi ideal suatu peristiwa, kelakuan, dan juga pemikiran. Patut di sini adalah ukuran yang bermain di tengah kehidupan masyarakat di mana di dalamnya mengandung ketentuan ketat antara yang sesuai dengan yang tidak sesuai. Sebagai contoh, pemikiran yang patut bagi seorang Melayu dapat dilihat ketika dia memikirkan suatu rencana kehidupan yang tidak menyinggung orang lain di lingkungan sekitar. Ini dinamakan pemikiran yang patut. Sebaliknya, jika dalam bentuk aksi, individu itu melanggar berbagai nilai dan norma yang telah lama tertanam dalam diri manusia di lingkungannya, itu jelas-jelas tidak patut. Intinya adalah yang tidak menimbulkan pergesekan, konflik di tengah masyarakat, maka dinamakan patut.

Di sini, jika dianalogikan dalam kehidupan sehari-hari, ukuran patut dan tidak patut akan dengan gampang untuk dilihat. Beberapa kasus kecurangan dalam pemilihan kepala daerah misalnya, yang pada ujung-ujungnya menimbulkan rasa tidak senang dari para peserta yang lainnya, juga dapat dikategorikan hal yang tidak patut. Itu adalah ketidak sesuaian antara “yang seharusnya” dengan “yang terjadi”. Dalam kasus kecurangan itu akan melibatkan banyak hujah; alasan yang melatarbelakangi lahirnya perbuatan yang tidak patut.

Namun dengan begitu pula, akan menunjukkan bahwa hingga saat ini, kategori patut dan tidak patut yang dikenal dalam Melayu, menjadi bias. Padahal diakui bahwa dengan mendudukkan kata patut dalam suatu pemikiran yang riil, menuntun kita untuk menghindari konflik. Bukan seperti sekarang, dari sebagian besar kasak kusuk kehidupan perpolitikan di tingkat lokal, justru mengarahkan opini yang ada pada jawaban yang sangat mengejutkan; kita telah lama meninggalkan konsepsi patut ini. Ini lantaran kata patut yang telah berjiwa dan berakar disejajarkan dengan semangat untuk meraih kekuasaan. Jadinya semua serba dangkal akan nilai kekeluargaan. Sementara kekuasaan pula, hanyalah jalan yang dapat melegalkan setiap pemikiran dan tingkah laku dari seorang pemimpin.

Sebelumnya, terlebih dahulu saya ingin menegaskan di sini bahwa bukan maksud saya untuk mematahkan logika berpikir dari setiap orang Melayu dalam memandang ketentuan negara. Padahal pada satu sisi, antara ketentuan yang dikeluarkan oleh negara dengan cara hidup puak Melayu ada kesamaan pandangan yang mesti disadari. Bukankah setiap peraturan perundangan-undangan yang ada diterima oleh setiap puak Melayu tanpa ada sedikit cela pun? Itu tandanya orang Melayu menyadari bahwa dengan adanya kepatuhan itu, segala yang mengarah pada hal-hal yang tidak patut dapat diminimalisir.

Lantas timbul pertanyaan. Termasukkah kasus korupsi di sini? Saya kira itu adalah pertanyaan yang sangat tepat untuk kita katakan sebagai pintu gerbang menuju suatu perubahan, bukan hanya perubahan hukum melainkan juga perubahan sosial.

Korupsi di sini, yang oleh undang-undang lebih ditekankan pada penyalahgunaan wewenang untuk mengeruk keuntungan baik materi maupun non materi, menyentuh urat nadi kehidupan Melayu. Akibat korupsi kesengsaraan mulai merayap ke mana-mana. Penduduk negeri yang telah merdeka lebih dari setengah abad ini tak juga menemukan jalan lurus untuk meraih kesejahteraan. Padahal negara oleh Khan, mempunyai tugas sebagai penjaga malam. Itu artinya selain mampu memberikan rasa tenang juga harus mampu menyuguhkan kecukupan ekonomis. Namun jika sebaliknya negara tidak mampu untuk menerapkan ide dasar yang telah bersusah payah dilahirkan oleh Khan itu, saya khawatir teori benturan peradaban ala Huntington semakin menunjukkan gejala yang tegas.

Kita di sini, sebagai tamadun Melayu misalnya, masih mempunyai beberapa “alat” -kalau boleh saya berkata demikian- untuk mencari jalan keluar dari pergelutan masalah yang ada. Selain konsepsi patut, tentunya kita mengenal pula pantang larang.

Pantang larang di sini juga menyerupai dengan undang-undang yang dikeluarkan oleh negara. Hanya saja perbedaannya lebih pada tataran kehidupan secara luas. Pantang larang dikenal dalam kehidupan keluarga-keluarga Melayu, sementara peraturan perundang-undangan sebagai suatu produk hukum, mengatur kehidupan manusia untuk berinteraksi baik sesama manusia maupun dengan negara. Yang pasti pantang larang dalam Melayu adalah bentuk-bentuk nilai dan norma yang tak terbantahkan. Saya kira saatnyalah kita kembali mengangkat segala seluk beluk kekayaan kulutural yang masih ada secara tradisional ke tengah kehidupan modern saat ini, tentu saja dengan penyesuaian yang lebih dianggal ideal bagi perkembangan dan kebutuhan zaman.

Memang dibutuhkan suatu pemahaman yang khusus untuk dapat mensejajarkan konsepsi patut dan pantang larang dalam Melayu dengan segala leguh legah kehidupan. Ini berarti juga puak Melayu memegang kuat-kuat teraju kultural agamis yang ada.

Jangan melakukan korupsi, itu tidak patut. Jangan berbuat kolusi, itu juga tidak patut. Alasannya masih ada pantang larang yang mesti diperhatikan sebab dengan begitu lahirlah tatanan kehidupan tamadun Melayu yang utuh bernuansa Melayu. Raja Ali Haji, dalam Gurindam Duabelas telah berkata; “Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan. Bukannya manusia yaitulah syaitan.”

Jauh-jauh hari, sang sastrawan besar Melayu itu telah menaburkan rambu-rambu dalam bermasyarakat, dan bernegara. Itu karena dalam kaca mata Melayu, antara patut dan tidak patut, tetap akan mengikut sertakan pantang larang di dalamnya. Sama ada sebagian dari kita masih menyangsikannya, itu urusan lain. Bukan mengapa, sekaranglah bagi kita untuk kembali mengingatkan diri tentang keberadaan nilai-nilai petuah Melayu menjadi wujud nyata untuk bertingkah laku.

Konsepsi patut perlu dikukuhkan lagi. Dengan bertingkah laku patut akan dapat memberikan ketenangan bukan hanya bagi diri pribadi, melainkan juga bagi lingkungan. Seseorang yang bertingkah patut dengan serta merta akan dapat memposisikan diri pada jalur kebaikan, tentu saja ia berada dalam lindungan Tuhan Yang Kuasa.

Nah, jika sudah sampai pada tahap ini, masyarakat tidak perlu khawatir akan terjadinya konflik, baik horizontal maupun vertikal. Semua telah dapat diredam sedemikian rupa. Jadinya kawasan Melayu, sebagaimana dulu pernah diangan-angankan oleh para raja-raja sebagai kawasan yang luas, yang didalamnya dapat memberikan ketenangan lahir dan batin, dapat diwujudkan. Kehidupan mengalir dengan sempurna sesuai kehendak dan harapan.

Saat itu tidak akan lagi dijumpai perselisihan sebab perselisihan telah dipadamkan dengan sendirinya oleh kesadaran akan berkelakuan yang patut. Begitu juga terhadap pertembungan antara kejahatan dan kebaikan, terkikis dengan sendirinya.

Ah, betapa saya kerap membayangkan tamadun Melayu akan menjunjung tinggi kata patut dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Betapa saya selalu menghayalkan puak Melayu menemukan jalannya untuk menumbuhkan kesadaran akan patut dan tidak patut serta keberadaan pantang larang. Mudah-mudahan dengan begitu semua petuah yang terkandung dalam Gurindam Duabelas dapat menjadi bukan hanya sekedar pajangan dilemari kebudayaan belaka, melainkan sebagai petunjuk. Bukankah setiap pekerjaan yang telah benar, tidak akan menimbulkan onar?

Ranai, 23 Oktober 2008
_______________________________________________________________________________

MERETAS IDENTITAS MELAYU BARU

Oleh : Mahyudin Al-Mudra
Pendapat yang mengatakan bahwa orang Melayu mesti beragama Islam, berbahasa dan berbudaya Melayu, dan berdomisili di kawasan Melayu, sepertinya sudah tidak kontekstual dan memadai lagi, terlebih lagi di era globalisasi dan multikultural seperti sekarang ini.

Setidaknya ada dua alasan utama mengapa proposisi di atas diajukan. Pertama, mempertimbangkan fakta sejarah tentang migrasi orang-orang Melayu dari Teluk Tonkin (wilayah Yunan), Tiongkok Barat Daya, menuju nusantara yang berlangsung melalui dua gelombang. Gelombang pertama berlangsung sekitar 5000-1500 tahun SM. Gelombang migrasi pertama orang-orang Melayu ini, atau yang disebut sebagai Melayu Tua (Proto Melayu), kemudian melahirkan keturunan-keturunan seperti Suku Batak, Suku Anak Dalam, Suku Talang Mamak, dan Suku Nias di Sumatra, juga Suku Dayak di Kalimantan. Gelombang kedua, yang selanjutnya disebut sebagai Melayu Muda (Deutro Melayu), berlangsung sekitar 200-300 tahun SM. Disebabkan oleh penguasaan teknologi yang lebih baik, kehadiran orang-orang Melayu Muda ini selanjutnya membuat para pendahulunya terdesak karena kalah bersaing, sehingga orang-orang Melayu Tua terpaksa menyingkir ke kawasan-kawasan pedalaman. Karena posisinya yang lebih dominan, orang-orang Melayu Muda juga dengan leluasa menyebar ke seluruh penjuru nusantara untuk mengembangkan pemukiman baru. Dari keturunan mereka inilah kelak lahir suku-suku seperti Jawa, Bali, Bugis, Makasar, dan suku-suku berbahasa Minangkabau (Yuanzi, 2005: 3-4).

Jika merujuk pada pendapat di atas, bisa dipastikan bahwa sebagian besar penduduk nusantara saat ini adalah tergolong rumpun Melayu (atau ras Mongoloid), kecuali sebagian besar penduduk asli di bumi Papua (ras Negrito) dan Suku Badui di Jawa Barat, serta Suku Toala di Sulawesi, yang tergolong ras Wedda. Mengenai dua suku yang disebut terakhir, memang masih debatable. Sebagian ahli menyebut mereka termasuk rumpun Melayu Tua, karena bentuk fisiknya tidak jauh berbeda dengan sebagian besar orang Melayu, sedang yang lain menganggap tidak –karena mereka telah eksis jauh sebelum terjadi migrasi gelombang pertama orang-orang Yunan ke nusantara.

Kedua, mengkerutnya dimensi ruang-waktu akibat penetrasi globalisasi. Sebagai sebuah tren global, globalisasi telah menyediakan infrastruktur kebudayaan yang memungkinkan orang bergerak secara lebih leluasa, berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain, melakukan kawin campur dengan ras lain, atau mengadopsi identitas dan budaya orang lain. Fenomena ini juga tidak bisa dihindari oleh orang-orang Melayu, sehingga bukan bukan hal yang aneh ketika saat ini kita menjumpai banyak orang Melayu tidak lagi tinggal di kawasan Melayu dan tidak lagi mempraktekkan tradisi dan budaya Melayu.

Berangkat dari dua alasan di atas, sebuah identitas baru bagi puak-puak Melayu cukup urgen untuk diwacanakan. Namun, tulisan ini tidak bermaksud menyuarkan kembali identitas romantik kemelayuan yang bernuansa eksklusif, sebagaimana tercermin dalam gagasan Melayu Raya dalam sistem Pan-Malaysianisme yang diwacanakan oleh Ibrahim Yacoob, tokoh pergerakan Pan-Melayu pada pertengahan dekade 1930-an. Tulisan ini hendak menawarkan yang sebaliknya --berusaha mengafirmasi keragaman ekspresi berbudaya puak-puak Melayu di nusantara (bahkan dunia) –yang dalam konteks tertentu telah mengalami transformasi cukup massif akibat kehidupan dunia yang senantiasa berubah.



Ragam ekspresi

Meskipun secara historis suku-suku yang tinggal di nusantara dapat dianggap berasal dari nenek moyang yang sama, namun tersebab faktor-faktor tertentu mereka akhirnya membangun identitas kebudayaan yang berbeda-beda. Sama halnya dengan orang-orang Eropa, yang konon juga berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu suku-suku bar-bar yang tinggal di kawasan –yang sekarang ini lebih dikenal sebagai Skandinavia.

Jika keragaman ekspresi kebudayaan nusantara direntang dari Sabang sampai Merauke, bisa dipastikan tak ada negara manapun di dunia ini yang memiliki tingkat keragaman budaya melebihi Indonesia. Terdapat ratusan, bahkan ribuan adat istiadat yang terbabar mulai dari tata cara perkawinan, tarian adat, pakaian adat, cara bercocok tanam, cara menyambut tamu, pembagian warisan, dan masih banyak lagi. Belum lagi ketika hal-hal yang lebih abstrak juga dibandingan –misalnya saja tentang pandangan hidup –akan dijumpai betapa negeri kepulauan yang bernama Indonesia ini dihuni oleh ratusan kelompok etnik dengan berbagai macam konsep kosmologi dan sistem religi.

Bahkan, setelah “agama impor” (Hindu, Budha, Kristen, Islam) datang dan mulai menancapkan pengaruhnya di Indonesia, karakter universalnya tetap saja tak mampu menghapus keragaman adat-istiadat yang berkembang di nusantara. Dalam konteks tertentu, justru agama-agama tersebut yang dipaksa harus berdamai dengan adat-istiadat lokal. Sekedar contoh, sebut saja Islam Wetutelu yang berkembang di Lombok, Islam Kejawen, Islam Suku Talang Mamak, Islam Suku Kajang, atau agama adat Batak dengan konsep Debata na tolu-nya, yang dipengaruhi ajaran tri-murti agama Hindu.

Mendefinisikan identitas kemelayuan di tengah fakta sosial yang menyuguhkan keragaman ekspresi kebudayaan memang bukan persoalan mudah. Namun, hal inilah yang justru menjadi tantangan tersendiri. Selagi ihktiar tetap diniatkan di atas prinsip toleransi dan saling menghormati, keragaman budaya bukanlah kutukan, melainkan berkah sosial yang tak ternilai harganya.



Perspektif holistik-integratif

Melihat betapa beragamnya ekspresi identitas dan kebudayaan puak-puak Melayu di nusantara, terlebih lagi di dunia, membuat perspektif lama yang menganggap bahwa orang Melayu harus beragama Islam, beradat dan berbudaya Melayu, dan berdomisili di kawasan Melayu, sudah saatnya dikoreksi. Sebab, Melayu sebagai sebuah identitas kultural sejatinya tidak dapat direduksi berdasarkan kriteria-kriteria tersebut.

Jika merujuk pada dua alasan di atas, setidaknya ada tiga implikasi yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk melihat identitas Melayu secara baru. Pertama, lantaran hampir semua suku bangsa yang tinggal di nusantara adalah keturunan orang-orang Yunan dari tanah Tiongkok, yang selanjutnya disebut sebagai orang Melayu, maka sebagian besar penduduk Indonesia saat ini dengan sendirinya juga dapat disebut sebagai orang Melayu. Kedua, setelah orang-orang Melayu ini menyebar ke seluruh penjuru nusantara dan membentuk adat-istiadatnya masing-masing, maka menghubungkan Melayu hanya dengan suku, adat, wilayah, dan (bahkan) agama tertentu adalah tindakan yang ahistoris.

Ketiga, seiring dengan laju globalisasi yang kian pesat, banyak orang-orang Melayu diaspora yang tinggal di kawasan dan mengadopsi identitas kultural non-Melayu. Bahkan, dalam konteks tertentu, mereka telah tercerabut dari akar budaya Melayu-nya dan memilih untuk mengadopsi identitas yang lebih kosmopolit –identitas universal yang berusaha melampaui asal-usul.

Bertolak dari implikasi di atas, dan tentu dengan sekian keterbatasan, saya mencoba menawarkan sebuah identitas Melayu secara lebih holistik. Holistik dalam konteks ini tidak berkonotasi pada sebuah pengandaian yang mengatasi segala bentuk perbedaan. Justru sebaliknya, perspektif holistik yang saya tawarkan adalah afirmasi terhadap perbedaan itu sendiri. Dengan demikian, perbedaan suku, agama, adat, budaya, juga kewarganegaraan, bukanlah kendala untuk menciptakan persaudaraan antara puak-puak Melayu yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Identitas Melayu baru adalah pengandaian yang dibuat berdasarkan kesadaran betapa multikulturalisme adalah fakta sosial yang tidak dapat ditampik. Identitas Melayu baru ibarat rumah yang menyediakan ruang tanpa batas untuk berbagi ekspresi bagi puak-puak Melayu di seluruh penjuru dunia. Identitas Melayu baru adalah ‘medan kontestasi‘ bagi siapapun yang merasa dan menganggap dirinya sebagai puak Melayu. Perbedaan, ketegangan, ataupun pola-pola transformasi yang berhubungan dengan pembentukan identitas kemelayuan, tidak dianggap sebagai bibit-bibit persengketaan, melainkan modal kultural yang berfungsi sebagai sarana untuk menciptakan dialog kultural yang dilandasi semangat saling memahami dan toleransi.

Sumber : Koran Tempo Minggu 3 Agustus 2008
Mahyudin Al Mudra adalah Pendiri dan Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu 
________________________________________________________________________________

DODOI

Orang Melayu selalu mengidamkan anaknya menjadi ‘orang’, dalam pengertian menjadi orang yang berhasil, baik lahir maupun batin. Oleh sebab itu, mereka sangat memperhatikan pendidikan anak-anak sejak dini. Berbagai cara mereka gunakan sebagai media unutk menyampaikan ajaran agama dan adat resam, dengan harapan, ajaran agama dan adat resam tersebut tertanam dalam di sanubari anak-anak mereka. Salah satu media yang digunakan para orang tua adalah lagu dodoi. Kalau kita pergi jalan-jalan ke desa-desa Melayu, masih sering terdengar seorang ibu bersenandung menidurkan anaknya dalam buaian atau gendongan. Lirik lagu-lagu dodoi tersebut biasanya berisi ajaran moral dan nasihat. Maka, melalui senandung lagu dodoi tersebut, seorang ibu bisa melakukan dua hal sekaligus: menidurkan anak, dan pada saat yang sama mengajari anaknya nilai-nilai moral dan agama. Berikut ini beberapa contoh lagu-lagu dodoi yang sering disenandungkan oleh seorang ibu ketika menidurkan anaknya; seorang nenek ketika menidurkan cucunya; ataupun seorang kakak ketika menidurkan adiknya:

“Ya Allah Malikul Rahman
Anakku ini berilah iman
Amal ibadat minta kuatkan
Setan iblis minta jauhkan”

“Dari kecil cencilak padi
Sesudah besar cencilak padang
Darilah kecil duduk mengaji
Sesudah besar tegak sembahyang”

“Pucuk dedap selera dedap
Sudah bertangkai setapak jari
Duduklah anak membaca kitab
Sesudah pandai tegak berdiri”

“Apa berdebuk seberang pekan
Buli-buli yang kena jerat
Buah yang mabuk jangan dimakan
Batang berduri usah dipanjat”

“Jangan suka mematahkan parang
Tangan luka gagangnya rusak
Jangan suka menyusahkan orang
Tuhan murka orang pun muak”

“Mencabut tebu tidaklah mudah
Banyak sekali duri lalangnya
Menuntut ilmu tidaklah mudah
Bayak sekali aral halangnya”

“Petang Jumat memukul bedug
Sesudah azan orang pun qamat
Peganglah amanat elok-elok
Supaya badan hidup selamat”

“Jong-jong inai
Mak Ipung rajawali
Tersepak tunggul inai
Berdarah ibu kaki”

“Pok amai-amai
Belalang kupu-kupu
Tepuk adek pandai
Kalau malam minum susu
Susu lemak manis
Santan kelapa muda
Adik jangan menangis
Emak ayah pergi kerja”

“Emak gali kunyit
Kawan gali rebung
Banyak dapat duit
Simpan dalam tabung

Berikut sebuah contoh lagu dodoi yang lain:

DODOI SI DODOI
Buah hatiku junjungan jiwa (2x)
Tidur-tidurlah ya anak
Ibu dodoikan ya sayang
Dodoi si dodoi...aaaa
Dodoi si dodoi....

Reff.
Janganlah anak suka menangis (2x)
Ayahmu jauh ya anak
Di rantau orang ya sayang
Dodoi si dodoi...aaaa
Dodoi si dodoi....

Tidurlah anak dalam ayunan (2x)
Tidurlah nyenyak ya anak
Sambil kubuai ya sayang
Dodoi si dodoi...aaaa
Dodoi si dodoi....

Sumber:
Tenas Effendy. 2004. Tunjuk Ajar Dalam Pantun Melayu. Yogyakarta: AdiCita Karya Nusa dan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu
Majelis Peperiksaan Malaysia. Mutiara Sastra Melayu Tradisional. Kuala Lumpur: 2005

Rabu, 29 Oktober 2008


Kejayaan dan Keistimewaan Melayu

DAHULU Melayu dikenal sebagai sebuah peradaban yang agung dan bangsa yang hebat. Pengaruh kekuasaannya yang luas dan hubungannya dengan berbagai kerajaan di Nusantara, seperti Singasari, Sriwijaya dan Majapahit sampai abad ke-7 telah dicatat oleh I-tsing, sang pengembara dari Cina.

Menurut sejumlah pakar sejarah, istilah Melayu sudah muncul sejak lama. Istilah ini digunakan secara luas untuk menggambarkan keagungan dan kegemilangan sebuah kerajaan-bangsa. Dalam kitab Sejarah Melayu, Sulalatus-Salatin, istilah Melayu adalah nama yang diberikan pada keturunan Sultan Malaka, yang berdasarkan mitologi, merupakan keturunan Iskandar Zulkarnain.

Menurut catatan sejarah, Raja Melayu pertama turun dari Bukit Siguntang, Palembang yang kemudian berkembang hingga terbentuk Kerajaan Malaka oleh Parameswara. Dengan berkembangnya Islam di kerajaan Malaka maka makin kokohlah kemuliaan serta kejayaan Melayu. Peristiwa peng-Islam-an Raja Malaka yang diawali dengan mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW secara tersirat menunjukkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang tinggi martabatnya. Bangsa yang terangkat kemulian lantaran dimahkotai oleh agama Islam. Kesultanan Melayu Malaka mencapai puncak kejayaannya tatkala diperintah Sultan Muzafar Shah dan Sultan Alaudin Riayat Shah yang arif dan bijak. Di bawah pemerintahan mereka, Kesultanan Melayu memperluas kekuasaannya, termasuk menjalin perdagangan antar bangsa hingga Kepulauan Ryukyu, Jepang.

Laksamana Hang Tuah dan lima sahabatnya, serta Bendahara Tun Perak, merupakan tokoh-tokoh Melayu yang terkenal pada saat itu. Dengan kekuatan perdagangan,pengaruh politik, dan Islam, Kerajaan Cina tertarik menjalin hubungan diplomasi dan perdagangan dengan kesultanan Melayu. Hubungan itu makin dikukuhkan dengan perkawinan puteri Cina, Hang Li Po, dengan Sultan Muzafar Shah. Dasar inilah yang menjadi titik permulaan Kesultanan Melayu menjalin hubungan dengan Cina.

Tak sampai di situ saja, peradaban Melayu semakin gemilang manakala bahasa Melayu menjadi lingua-franca yang dituturkan sebagai bahasa perdagangan dunia. Para pedagang Cina dan India, misalnya, menjadikan bahasa Melayu menjadi medium penuturan yang digunakan tidak saja di Malaka tapi hingga seluruh Nusantara. Sampai saat ini bahasa Melayu sudah menjadi bahasa keempat dunia yang dituturkan lebih kurang 250 juta orang.

Inilah cerminan dari sebuah bangsa yang kuat dan berpengaruh. Di samping itu, bahasa Melayu yang dinamis adalah kelebihan bahasa ini dalam menyerap berbagai pengaruh dan penerapan frase ilmu pengetahuan dari sejak zaman Hindu-Buddha sampai setelah kedatangan Islam, dan semua ini menegaskan kemauan orang Melayu untuk berubah menjadi bangsa yang lebih baik kedudukannya. Sejarah lalu juga telah menunjukkan bagaimana kehebatan bangsa Melayu bukan hanya terletak pada kejayaan material semata-mata, tetapi juga pada sendi budaya dan adat yang bernafaskan Islam. Inilah yang memikat kekuatan kekuasaan asing untuk memperebutkan bumi bertuah.

Jika sampai pada pembahasan sastra Melayu, sampailah kita pada Riau. Hingga saat ini sastra Melayu-Riau telah memoles warnanya yang amat mencolok dalam khazanah sastra Indonesia. Dalam sebuah wawancara di Pekanbaru pada tahun 1999, manakala sejumlah daerah sedang menuntut kemerdekaan dan mempersoalkan otonomi, seorang penyair terkenal Sutardji Colzum Bachri menyatakan bahwa hal yang sangat konkret bagi Riau adalah ‘negara kata-kata’. Menurutnya eksistensi orang Riau adalah katakata. Kosmologi mereka adalah kata, demikian tegas Sutardji. Apa maksudnya? Sutardji mengungkapkan sebuah pernyataan ringkas, “Bila tradisi modern sastra Indonesia bermula dari tahun 1920-an, yaitu pada masanya pra pujangga Baru dan Pujangga Baru, maka tradisi Riau satu abad lebih dahulu tumbuh dan gemilang sedemikian rupa.

Kemampuan Raja Ali Haji menukilkan sejarah sastra yang cemerlang dan sangat fundamental menjadikannya sebagai puncak sastra. Beranjak dari kenyataan itu, sastra Riau bermula dari puncak, sedangkan sastra Indonesia bermula dari percobaan-percobaan dan eksperimentasi.” Raja Ali Haji, tokoh sastrawan dan intelektual Riau memang telah menorehkan bukti sejarah konkrit tentang kontribusi masyarakat Melayu- Riau bukan saja sastra Indonesia tapi juga dunia intelektual. Tengok saja karya-karyanya, mulai dari 'Hikayat Abdul Muluk' (1846), 'Gurindam Dua Belas' (1847), 'Muqaddimah fi Intizam' (1857), 'Kitab Pengetahuan Bahasa' (1869) dan 'Silsilah Melayu dan Bugis' (1865), sampai karyanya yang monumental 'Tuhfat an-Nafis' (1866).

Semua ini menggambarkan tentang Melayu yang begitu intelek yang didukung oleh penyebaran Islam dan dukung pemerintah terhadap pengembangan budaya dan ilmu pengetahuan. Sungguh tak heran jika istana kemudian dijadikan sebagai pusat pengajian ilmu dan tempat para ulama berkumpul. Banyak masjid dan sekolah pondok serta madrasah didirikan dengan maksud untuk membina keunggulan bangsa Melayu, dan semua rakyat berpeluang menerima ilmu yang dapat memajukan mereka.

Kemunculan kaum intelektual, cendekiawan, serta ulama yang termasyhur dengan berbagai karyanya di bidang pengetahuan, agama, dan filsafat menjadi ukuran bahwa bangsa ini sebenarnya adalah bangsa yang mementingkan ilmu pengetahuan. Tradisi Melayu ini diwarisi juga oleh Aceh dan Johor yang mengembangkan ilmu dan pengetahuan.Aceh kemudian dijuluki sebagai Serambi Mekah karena menjadi pusat pengkajian agama seperti di Malaka. Pusat pengkajian agama ini kemudian melahirkan ulama-ulama seperti Abdul Rauf Singkel dan Samsudin Al-Sumatrani. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda mereka melanjutkan institusi Baiturahman sehingga banyak melahirkan pemikir Melayu.

Keistimewaan Melayu juga didukung oleh warisan budaya dan adatnya yang kaya, mulai dari syair, pantun, sepak raga, congkak hingga tarian-tarian yang memiliki cita rasa estetis tinggi. Pewarisan ini juga menjadi semacam pesan pada generasi kini bahwa di dalam kesenian itu juga sebenarnya ada unsur nasehat yang menjadi pedoman untuk menjadi bangsa yang hebat. Begitu juga dengan perilaku orang Melayu, semuanya penuh dengan simbol ketinggian pekerti, melalui budi bahasa dan sopan santunnya. Melayu dikenal sebagai bangsa berbudi yang suka menabur budi kepada orang lain. Jiwa gotong-royong dan rasa kekeluargaan apalagi tatkala melihat tetangga dan saudara seagama, mereka bagaikan satu keluarga. Begitu pula dengan sifat hormat-menghormati dan kasih sayang yang diungkapkan dalam pantun, syair dan madah gurindam warisan nenek moyang yang selaras dengan tuntunan Islam itu, bagai kata pepatah, “Yang tua dihormati dan yang muda dikasihi”. Nilai-nilai inilah yang meletakkan Melayu sebagai bangsa besar dimana kebesaran ini telah membedakannya dengan peradaban lain di dunia. Oleh sebab itulah kita perlu membangun setelah jatuh, karena kita percaya untuk menjadi bangsa yang unggul tidak pernah ada titik akhirnya…

sumber : http://melayuiin.blogspot.com/

SENJATA TRADISIONAL MELAYU


Senjata tradisional amat berkait rapat dengan sejarah Melayu yang diwarisi oleh orang Melayu sejak zaman Kesultanan Melayu Melaka lagi. Persejarahan senjata di Malaysia amat rapat dengan unsur-unsur seni mempertahankan diri seperti silat. Keterampilan rekacipta Pandai Besi maka kepelbagaian alat persenjataan telah terhasil, antara yang amat digemari sehingga kini seperti keris, parang, kelewang, beladau, tombak dan banyak lagi.

Peranan senjata amatlah penting dalam naluri hidup manusia, selain dari digunakan sebagai alat berperang atau mempertahankan diri serta hiasan ianya juga dikaitkan dengan unsur-unsur alam ghaib. Sesetengah mereka mempercayai sesuatu senjata itu mempunyai kuasa dalaman yang dapat membantu mempertingkatkan ilmu kebatinan kepada si pemiliknya.

Kelok-kelok yang dibentuk pada senjata melambangkan nilai-nilai estetika yang tersendiri dalam menggambarkan daya imaginasi kemelayuan sejak zaman-berzaman dengan teliti dan kreatif. Dengan pelbagai bentuk senjata tradisional yang kebanyakkannya berasal-usul dari luar yang diwarisi oleh nenek moyang mereka juga melambangkan ketinggian daya pemikiran dalam mengungkapkan segala makna yang tersurat dan tersirat.

Pada kebanyakan senjata seperti keris, lawi ayam, tumbuk lada, kelewang serta beberapa rumpunan yang serupa dengannya akan dihiasi dengan hulu yang diukir indah serta diberikan nama-nama tertentu seperti Jawa Demam, Kepala Nuri, Anak Ayam Teleng dan lain-lain. Tidak ketinggalan juga dengan sarung atau rangka yang kebiasaannya diperbuat dari kayu yang baik seperti teras nangka, tempinis, kayu kemuning, raja kayu dan sebagainya.

sumber : http://malaysiana.pnm.my/
__________________________________________________________________________________

Faren Malay : FALSAFAH HIDUP SUKU BANGSA MELAYU

FALSAFAH HIDUP SUKU BANGSA MELAYU

Suku bangsa melayu itu dalam falsafah hidupnya dapat disimpulkan berlandaskan pada 5 dasar, yaitu :

1. Melayu itu Islam,
yang sifatnya universal dan demokratis bermusyawarah.

2. Melayu itu berbudaya,
yang sifatnya nasional dalam bahsa, sastra, tari, pakaian, tersusun dalam tingkah laku, dan lain-lain.

3. Melayu itu beradat,
yang sifatnya regional (kedaerahan)dalam bhineka tunggal ika, dengan tepung tawar, balai pulut kuning dan lain-lain yang mnegikat tua dan muda.

4. Melayu itu berturai,
yaitu tersusun dalam masyarakat yang rukun tertib mengutamakan ketenteraman dan kerukunan, hidup berdampingan dengan harga menghargai timbal balik, bebas tapi terikat dalam masyarakat.

5. Melayu itu berilmu,
artinya pribadi yang diarahkan kepada ilmu pengetahuan dan ilmu kebathinan (agama dan mistik), agar bermarwah dan disegani orang, untuk kebaikan umum.

Rukun tertib yang dimaksudkan puak melayu adalah keadilan dan kebenaran yang harus dapat dirasa dan dilihat.
Ia mengetahui, bahwa :

ISLAM tidak bertentangan dengan masyarakat yang berperikemanusiaan dan yang ber-Tuhan.

BUDAYA tidak bertentangan dengan masyarakat yang ingin beradab dan mengingkat lahiriah dan bathiniah

ADAT tak bertentangan dengan peradaban masyarakat yang ada rasa kekeluargaan, bukan individualistis.

BERTURAI tak bertentangan dengan masyarakat yang tahu harga diri, yang ingin kebenaran, keadilan dan kemakmuran yang merata dalam kehidupan.

BERILMU tak bertentangan dengan masyarakat yang ingin maju untuk kepentingan diri dan masyarakatnya. pengabdian adalah pada Allah, manusia dan lingkungan, untuk kebahagiaan diri sekarang dan nanti.


Dikutip dari Buku Butir Butir Adat Melayu Pesisir Sumatera Timur yang disusun oleh T.H.M. Lah Husny.

Senin, 26 Maret 2012

Faren Malay : TUNJUK AJAR MELAYU


Tunjuk Ajar adalah sejenis petuah, petunjuk, nasehat, amanah, pengajaran , contoh teladan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Melihat kepada isi, maka tunjuk ajar berisikan nilai-nilai luhur agama islam yang sangat sesuai dengan budaya dan norma-norma sosial yang dianut masyarakat, baik orang tua, remaja dan anak-anak.

Kedudukan tunjuk ajar bagi orang melayu sangat tinggi dan penting, dan karena itu orang yang tidak memahami mengamalkan tunjuk ajar disebut kurang ajar. Agar kita tidak menjadi orang yang kurang ajar bacalah tunjuk ajar melayu.


Bertanam Budi

Apa Tanda Melayu jati
elok perangai mulia budi pekerti
sakit senang menanam budi

Apa tanda Melayu jati
Hidunya Tahu membalas budi

Apa tandanya melayu jati,
membalas budi sampailah mati

Apa tanda Melayu jaiti,
Karena budi berani mati

Apa tabda Melayu Jati,
Temakan budi ia takuti

Apa tanda Melayu terpilih
Bertanam budi tiada memilih

Apa tanda Melayu Pilihan
Bertanam Budi jadi amalan

Apa tanda Melayu pilihan
Bertanam budi jadi amalan

Apa tanda Melayu Pilihan,
Temakan budi ia elakkan,
bertanam budi ia galakkan

Apa tanda Melayu terbilang
jujur di muka, lurus dibilang

Apa tanda Melayu bertuah
Batinya jujur dan lembut lidah.
sumber : terubuk.com

Faren Malay : JENIS-UKIRAN KAYU RIAU


Jenis-jenis Ukuran Kayu Riau, Bentuk ukiran mengacu pada moti-motif melayu yang khas, yaitu pada lariknya yang tidak patah-patah dan memiliki lengkungan yang bebas.
Ukiran dapat dibedakan berdasarkan teknik pembuatan , yaitu :

a.    Ukiran Tembus
Ukiran mulai dari garis luar sampai tembus kedalam dari motif yang dibuat tembus berelief. Ukiran tembus dapat dilihat pada bangunan rumah tradisional melayu Riau, seperti pada :
·    Selembayung
·    Sayap layang-layang
·    Ventilasi
·    Mimbar Mesjid sultan Siak
·    Mesjid Raya Pekanbaru
·    Lebah Bergantung
·    Kisi-kisi jendela
·    Ukiran pada nisan makam
·    Mesjid penyengat

b.    Ukiran Datar
Mengukir hanya pada garis bagian luar saja dari motif yang dibuat relief. Bentuk ukiran ini banyak terdapat :


·    Daun pintu dan jendela
·    Sebagian dari dinding
·    Tiang bagian luar
·    Tangga
·    Peralatan rumah Tangga
·    Senjata (keris, parang, dsb).



Faren Malay : RAGAM MOTIF MELAYU RIAU


Ragam Motif Melayu (Ukiran/Tenunan)


Sebagaimana daerah lainnya, Melayu juga terkenal dengan ragam motif (berbagai corak, ragi, hias, acuan induk, bentuk dasar, bentuk asal, pola) untuk ukiran, tenunan, atau bahkan hanya untuk gambar hiasan. Melayu memiliki beraneka ragam motif dasar yang menjadi khazanah budaya sejak ratusan tahun lalu sampai ke jaman kerajaan Riau-Lingga dan sampai sekarang pun masih tetap dipergunakan dan dilestarikan. Ragam motif melayu ini umumnya diterapkan pada ukiran kayu, ukiran perunggu, ukiran perak, maupun ukiran emas, serta pada bahan ukir lainnya. Ukiran juga diterapkan pada tenunan kain semisal di daerah Siak, Daik Lingga, Pelalawan, Inderagiri, Bengkalis, Siantan, dan daerah lainnya. Ragam motof ini diajarkan turun temurun semisal ayah mengajarkan ukiran pada kayu, atau ibunya mengajarkan anak perempuannya untuk menenun.

Ragam motif melayu bukan hanya sekedar gambar, ukiran atau tenunan yang menjadi hiasan semata, tetapi mempunyai makna dan falsafah tertentu menjadi lambang dan nilai-nilai luhur budaya Melayu. Jadi Ragam Motif Melayu mempunyai dua fungsi yaitu :
1.Hiasan
2.Penyebarluasannilai-luhurbudayaMelayu

Ragam motif diatur penempatan yang tepat padan sesuai oleh adat. Ada yang untuk tenunan, sulaman, tekat, suji, anyaman, hiasan bangunan, bahkan untuk lambang kerajaan. Sebagian lagi bisa dipergunakan untuk serbaguna dimana saja. Secara umum, berbagai ragam morif ini mempunyai kesamaan nama dan bentuk pada berbagai daerah, tetapi ada juga yang berbeda. Tetapi semuanya mengacu kepada kesamaan yang mendasar yakni budaya Melayu yang mengacukepada ajaran agama Islam.

Terkikisnya kerajaan-kerajaan Melayu telah ikut memudarkan ragam motif Melayu itu sendiri, walau tidaklah hilang sepenuhnya. Banyak perajin ukiran dan tenunan yang berkurang jauh dari pada sebelumnya. Untuk Kepulauan Riau, khususnya di Daik Lingga, kerajinan perunggu, tenunan, sulam dan suji telah lesap (hilang sejak berpuluh tahun lalu), kecuali tekat. Saat ini sudah tidak bisa dengan mudah mencari orang yang bisa menenun. Ragam motif yang ada dahulu menjadi terbiar dan akhirnya sebagian mengalami kepunahan. Begitu juga di tempat-tempat lain di Riau. Pemerintah beserta masyarakat telah berupaya untuk membangkitkan kembali ragam motif Melayu, sehingga sekarang sudah mulai ada yang mencoba untuk belajar menenun, mengukir, dan membuat hiasan bangunan.
Ragam Motif Melayu


Contoh gambar motif
Ini Motif Pucuk Rebung sirih tunggal

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRrCg1Ni_REtSq3L9ueHw6d8Jzo6i__kAqaSGwMSg-fj00eumNWTK5zhrHqUkaDgq4LyH3THkOr_J6zMtVrgfdyY8RYw8-kiU0zXaWl6FuRn6Qq2-hpYmutROh-JFP_LujBG1hsk9U-sus/s320/pucuk-rebung-sirih-tunggal-50.jpg


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiDxdLNGS2IFChThroRCTr22ovWyJ3hiwXakj55rKRtXPMv_FnZ3EKhK6-2l3-4DCFepEKiS7kfZCRroOkMAXoEpbvRhoT_Z4lbbCQ9WpRlNDGgieAMfhyphenhyphensjwximEFyq6FbAMDnqKqi1Q5N/s320/pucuk-rebung-sirih-tunggal-100.jpg



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5UoEPW2TmowtXjiaZWKA4olREu3XLO6SOZ-UlGQH7g5Hiu5kYtHxk5HaXSwBw1akSwZP_dxybJKZLcq87_YaWysRVdFC3my5CWnxeuxDFftZJfoaWR2qKgjuCXgKS_VQHVHAsLAD2N56i/s320/pucuk-rebung-sirih-tunggal.jpg

Kamis, 01 Maret 2012

PROSESI ADAT PERKAWINAN MELAYU RIAU

PROSESI ADAT PERKAWINAN MELAYU RIAU (THE RIAU MALAY WEDDING PROCCES)


Setelah melalui proses yang cukup panjang , dimulai dari Merisik hingga ke Pertunangan, maka kemudian dilanjutkan dengan acara perkawinan. Dalam adat melayu Riau Prosesi Perkawinan sangat banyak kita jumpai dan bahkan berbeda-beda, Melayu Indragiri (Rengat), Kampar, Kuantan Singingi, ataupun melayu Siak, Bengkalis, upacara perkawinan ini dianggap amat sakral bahkan tidak boleh ada satupun rangkaian prosesi adat yang terlewatkan. Berikut Prosesi Adat Melayu Riau dalam perkawinan pada umumnya :
 

MENGGANTUNG-GANTUNG

Pengantin ibarat raja dan ratu sehari, maka untuk keduanya disiapkan pelaminan yang megah bak singgasana.

Acara mengantung-gantung diadakan beberapa hari sebelum perkawinan atau persandingan dilakukan. Bentuk kegiatan dalam upacara ini biasanya disesuaikan dengan adat di masing-masing daerah yang berkisar pada kegiatan menghiasi rumah atau tempat akan dilangsungkannya upacara pernikahan, memasang alat kelengkapan upacara, dan sebagainya. Yang termasuk dalam kegiatan ini adalah: membuat tenda dan dekorasi, menggantung perlengkapan pentas, menghiasi kamar tidur pengantin, serta menghiasi tempat bersanding kedua calon mempelai. Upacara ini menadakan bahwa budaya gotong-royong masih sangat kuat dalam tradisi Melayu. Upacara ini harus dilakukan secara teliti dan perlu disimak oleh orang-orang yang dituakan agar tidak terjadi salah pasang, salah letak, salah pakai, dan sebagainya. Ungkapan adat mengajarkan hal ini sebagai berikut: 
Adat orang berhelat jamu
Menggantung-gantung lebih dahulu
Menggantung mana yang patut
Memasang mana yang layak 
Sesuai menurut alur patutnya
Sesuai menurut adat lembaga
Supaya helat memakai adat
Supaya kerja tak sia-sia
Supaya tidak tersalah pasang
Supaya tidak tersalah pakai 
MALAM BERINAI
Adat atau upacara berinai merupakan pengaruh dari ajaran Hindu. Makna dan tujuan dari perhelatan upacara ini adalah untuk menjauhkan diri dari bencana, membersihkan diri dari hal-hal yang kotor, dan menjaga diri segala hal yang tidak baik. Di samping itu tujuannya juga untuk memperindah calon pengantin agar terlihat lebih tampak bercahaya, menarik, dan cerah. Upacara ini merupakan lambang kesiapan pasangan calon pengantin untuk meninggalkan hidup menyendiri dan kemudian menuju kehidupan rumah tangga. Dalam ungkapan adat disebutkan: 
Malam berinai disebut orang
Membuang sial muka belakang
Memagar diri dari jembalang
Supaya hajat tidak terhalang
Supaya niat tidak tergalang
Supaya sejuk mata memandang
Muka bagai bulan mengambang
Serinya naik tuah pun datang
Berinai bukan sekadar memerahkan kuku, namun memper- siapkan pengantin agar dapat menjalani pernikahan tanpa aral halangan
Seri kecantikan diperoleh melalui kesabaran.
Pengantin harus berdiam diri , sabar menanti, agar inai yang dipasang di 
      jemari,tangan    dan kaki menghasilkan warna cerah yang berseri
Upacara ini dilakukan pada malam hari, yaitu dimalam sebelum upacara perkawinan dilangsungkan. Bentuk kegiatannya bermacam-macam asalkan bertujuan mempersiapkan pengantin agar tidak menemui masalah di kemudian hari. Dalam upacara ini yang terkenal biasanya adalah kegiatan memerahkan kuku, tetapi sebenarnya masih banyak hal lain yang perlu dilakukan. Upacara ini dilakukan oleh Mak Andam dibantu oleh sanak famili dan kerabat dekat. Upacara berinai bagi pasangan calon pengantin dilakukan dalam waktu yang bersama-sama. Hanya saja, secara teknis tempat kegiatan ini dilakukan secara terpisah, bagi pengantin perempuan dilakukan di rumahnya sendiri dan bagi pengantin laki-laki dilakukan di rumahnya sendiri atau tempat yang disinggahinya. Namun, dalam adat perkawinan Melayu biasanya pengantin lak-laki lebih didahulukan.  


UPACARA BERANDAM
 
Upacara berandam dilakukan pada sore hari ba'da Ashar yang dipimpin oleh Mak Andam didampingi oleh orang tua atau keluarga terdekat dari pengantin perempuan. Awalnya dilakukan di kediaman calon pengantin perempuan terlebih dahulu yang diringi dengan musik rebana. Setelah itu baru kemudian dilakukan kegatan berandam di tempat calon pengantin laki-laki. Sebelum berandam kedua calon pengantin harus mandi berlimau dan berganggang terlebih dahulu. Makna dari upacara berandam adalah membersihkan fisik (lahiriah) pengantin dengan harapan agar batinnya juga bersih. Makna simbolisnya adalah sebagai lambang kebersihan diri untuk menghadapi dan menempuh hidup baru. Sebagaimana disebutkan dalam ungkapan adat: 
Adat Berandam disebut orang 
Membuang segala yang kotor
Membuang segala yang buruk
Membuang segala sial
Membuang segala pemali
Membuang segala pembenci
Supaya seri naik ke muka
Supaya tuah naik ke kepala
Supaya suci lahir batinnya
Kecantikan budi mestilah yang utama
keelokan paras tiada boleh terlupa. 
Untuk itulah, Mak Andam merias calon pengantin agar kemolekan makin ternampak nyata./ Berandam yang paling utama adalah mencukur rambut karena bagian tubuh ini merupakan letak kecantikan mahkota perempuan. Di samping itu, berandam juga mencakup kegiatan: mencukur dan membersihkan rambut-rambut tipis sekitar wajah, leher, dan tengkuk; memperindah kening; menaikkan seri muka dengan menggunakan sirih pinang dan jampi serapah. Setelah berandam kemudian dilakukan kegiatan mandi tolak bala, yaitu memandikan pengantin dengan menggunakan air bunga dengan 5, 7, atau 9 jenis bunga agar terlihat segar dan berseri. Kegiatan ini harus dilakukan sebelum waktu shalat ashar. Mandi tolak bala kadang disebut juga dengan istilah ?mandi bunga?. Tujuan mandi ini adalah menyempurnakan kesucian, menaikkan seri wajah, dan menjauhkan dari segala bencana. Dalam ungkapan adat disebutkan: 
Mandi Bunga atau Mandi Tolak Bala bukan sekadar untuk meng- harumkan raga, namun agar jiwa bersih suci, jauh dari iri dengki
Hakekat mandi tolak bala
Menolak segala bala
Menolak segala petaka
Menolak segala celaka
Menolak segala yang berbisa
Supaya menjauh dendam kesumat
Supaya menjauh segala yang jahat
Supaya menjauh kutuk dan laknat
Supaya setan tidak mendekat
Supaya iblis tidak melekat
Supaya terkabul pinta dan niat
 Supaya selamat dunia akhirat
UPACARA KHATAM QUR'AN

Pelaksanaan upacara khatam Qur'an biasanya dilakukan setelah upacara berandam dan mandi tolak bala sebagai bentuk penyempurnaan diri, baik secara lahir maupun batin. Upacara khatam Qur?an sebenarnya bermaksud menunjukkan bahwa pengantin perempuan sudah diajarkan oleh kedua orang tuanya tentang bagaimana mempelajari agama Islam dengan baik. Dengan demikian, sebagai pengantin perempuan dirinya telah dianggap siap untuk memerankan posisi barunya sebagai istri sekaligus ibu dari anak-anaknya kelak. Di samping itu tujuan lainnya adalah untuk menunjukkan bahwa keluarga calon pengantin perempuan merupakan keluarga yang kuat dalam menganut ajaran Islam, sebagaimana dinyatakan dalam ungkapan adat: 
Pendidikan boleh tiada tamat, ijazah boleh tiada dapat, 
tetapi khatam Al Qur'an tiada boleh terlewat.
Dari kecil cincilak padi 
Sudah besar cincilak Padang 
Dari kecil duduk mengaji
Sudah besar tegakkan sembahyang
Upacara ini dipimpin oleh guru mengajinya atau orang tua yang ditunjuk oleh keluarga dari pihak pengantin. Upacara ini khusus dilakukan oleh calon pengantin perempuan yang biasanya perlu didampingi oleh kedua orang tua, atau teman sebaya, atau guru yang mengajarinya mengaji. Mereka duduk di atas tilam di depan pelaminan. Mereka membaca surat Dhuha sampai dengan surat al-Fatihah dan beberapa ayat al-Qur'an lainnya yang diakhiri dengan doa khatam al-Qur?an

ACARA HANTARAN BELANJA
Antar belanja atau yang biasanya dikenal dengan  dilakukan beberapa hari sebelum upacara akad atau sekaligus menjadi satu rangkaian dalam upacara akad nikah. Jika antar belanja diserahkan pada saat berlangsungnya acara perkawinan, maka antar belanja diserahkan sebelum upacara akad nikah. Beramai-ramai, beriring-iringan, kerabat calon pengantin laki-laki membawa antara belanja kepada calon pengantin wanita. 
Konsep pemikiran dari upacara antar belanja adalah simbol dari peribahasa-peribahasa seperti rasa senasib sepenanggungan,rasa seaib dan semalu, yang berat sama dipikul yang ringan sama dijinjing. Makna dalam upacara antar belanja ini adalah rasa kekeluargaan yang terbangun antara keluarga pengantin laki-laki dan pengantin perempuan. Oleh karena makna dan tujuannnya adalah membangun rasa kekeluargaan, maka tidak dibenarkan jumlah diantarkan menimbulkan masalah yang menyakiti perasaan di antara mereka. Ungkapan adat mengajarkan: 
Adat Melayu sejak dahulu 
Antar belanja menebus malu
Tanda senasib seaib semalu
Berat dan ringan bantu-membantu
ACARA AKAD NIKAH
Ketika rombongan calon pengantin laki-laki Upacara akad nikah merupakan inti dari seluruh rangkaian upacara perkawinan. Sebagaimana lazimnya dalam adat perkawinan menurut ajaran Islam, upacara akad nikah harus mengandung pengertian ijab dan qabul. Dalam ungkapan adat disebutkan bahwa: 
Seutama-utama upacara pernikahan
Ialah ijab kabulnya
Di situlah ijab disampaikan
 Si situlah kabul dilahirkan
Di situlah syarak ditegakkan
Di situlah adat didirikan
Di situlah janji dibuhul
Di situlah simpai diikat
Di situlah simpul dimatikan
Tanda sah bersuami isteri
Tanda halal hidup serumah
Tanda bersatu tali darah
Tanda terwujud sunnah Nabi
Dengan terucapnya ijab dan kabul, tanggung jawab ayah atas anak gadisnya beralih sudah kepada menantu laki-laki.
Pemimpin upacara ini biasanya adalah kadi atau pejabat lain yang berwenang. Setelah penyataan ijab dan qabul telah dianggap sah oleh para saksi, kemudian dibacakan doa /walimatul urusy/ yang dipimpin oleh kadi atau orang yang telah ditunjuk. Setelah itu, baru kemudian pengantin laki-laki mengucapkan /taklik/ (janji nikah) yang dilanjutkan dengan penandatanganan Surat Janji Nikah. Penyerahan mahar oleh pengantin laki-laki baru dilakukan sesudahnya. 

UPACARA MENYEMBAH

Setelah upacara akad nikah selesai dilakukan seluruhnya, kedua pengantin kemudian melakukan upacara menyembah kepada ibu, bapak, dan seluruh sanak keluarga terdekat. 
Makna dari upacara ini tidak terlepas dari harapan agar berkah yang didapat pengantin nantinya berlipat ganda. Acara ini dipimpin oleh orang yang dituakan bersama Mak Andam. Sembah sujud kepada orang tua tiada boleh lupa, agar tuah dan berkah turun berlipat ganda.
TEPUK TEPUNG TAWAR
Setelah upacara menyembah selesai, kemudian dilanjutkan dengan upacara tepuk tepung tawar. Makna dari upacara adalah pemberian doa dan restu bagi kesejahteraan kedua pengantin dan seluruh keluarganya, di samping itu juga bermakna sebagai simbol penolakan terhadap segala bala dan gangguan yang mungkin diterimanya kelak. Upacara ini dilakukan oleh unsur keluarga terdekat, unsur pemimpin atau tokoh masyarakat, dan unsur ulama. Yang melakukan tepung tawar terakhir juga bertindak sebagai pembaca doa. /Tepuk Tepung Tawar hakikatnya adalah pertanda, bahwa para tetua melimpahkan restu dan doa, bahwa marwah pengantin kekal terjaga. Dalam ungkapan adat disebutkan bahwa makna dari Tepuk Tepung Tawar adalah :
Menawar segala yang berbisa
Menolak segala yang menganiaya 
Menepis segala yang berbahaya
Mendingin segala yang menggoda
Menjauhkan dari segala yang menggila
Jadi, upacara Tepuk Tepung Tawar bermakna sebagai doa dan pengharapan. Dalam pantun nasehat disebutkan: Di dalam Tepuk Tepung Tawar, terkandung segala restu, terhimpun segala doa, terpateri segala harap, tertuang segala kasih sayang. Dalam pantun lain disebut juga bahwa: 
Tepung tawar untuk penawar
Supaya hidup tidak bertengkar
Wabah penyakit tidak menular
Semua urusan berjalan lancar
Kegiatan ini dilakukan dengan rincian: menaburkan tepung tawar ke telapak tangan kedua pengantin, mengoleskan inai ke telapak tangan mereka, dan menaburkan beras kunyit dalam bunga rampai kepada kedua pengantin. Setelah upacara ini selesai berarti telah selesai upacara inti perkawinan. Setelah itu tinggal melakukan upacara-upacara pendukung lainnya, seperti upacara nasehat perkawinan dan jamuan makan bersama.
MENGARAK PENGANTIN LELAKI
Upacara ini bentuknya adalah mengarak pengantin laki-laki ke rumah orang tua pengantin perempuan. Tujuan dari upacara ini sebagai media pemberitahuan kepada seluruh masyarakat sekitar tempat dilangsungkannya perkawinan bahwa salah seorang dari warganya telah sah menjadi pasangan suami-istri. Di samping itu, tujuanya adalah memberitahukan kepada semua lapisan masyarakat agar turut meramaikan acara perkawinan tersebut, termasuk ikut memberikan doa kepada kedua pengantin. Upacara ini beragam bentuknya, tergantung adat yang berlaku di masing-masing daerah Melayu. Bernaung payung iram, diiringi rentak rebana dan gendang,pengantin laki-laki datang kepada dewi pujaan. Dalam upacara arak-arakan ini, yang dibawa adalah beragam alat kelengkapan. Namun, yang paling utama dibawa adalah jambar (di Riau lebih dikenal dengan semerit, pahar ,poha, dulang berkaki).  Isi dalam jambar terdiri dari tiga unsur, yaitu: unsur kain baju atau pakaian dengan kelengkapan perias, unsur makanan, dan unsur peralatan dapur. Ketiga unsur tersebut mengandung makna tentang kehidupan manusia sehari-hari. Jumlah jambar ditentukan berdasarkan adat setempat, asalkan maknanya sesuai dengan nilai Islam. Jumlah 17 adalah sama dengan jumlah rukun shalat, jumlah 17 terkait dengan jumlah rakaat sehari semalam, dan jumlah 25 terkait dengan jumlah rasul pilihan. 
Perang Beras Kunyit
Sesampainya rombongan arak-arakan pengantin laki-laki di kediaman keluarga pengantin perempuan, kemudian dilanjutkan dengan upacara penyambutan. Dalam budaya Melayu, upacara penyambutan tersebut mempunyai makna yang sangat dalam. Oleh karenanya, pengantin laki-laki perlu disambut dengan penuh kegembiraan sebagai bentuk ketulushatian dalam menerima kedatangan mereka. Upacara pencak silat merupakan perlambang kepiawaian pengantin laki-laki menghadapi tantangan.
Iringan Pengantin Laki-Laki dan Perempuan Saling Bertukar tepak
Upacara penyambutan arak-arakan pengantin laki-laki biasanya bentuknya tiga macam, yaitu permainan pencak silat, bertukar tepak induk, dan berbalas pantun pembuka pintu. Dalam kegiatan permainan pencak silat, makna yang terkandung di dalamnya adalah bahwa pengantin laki-laki sebagai calon kepala rumah tangga perlu ditantang kejantanan dan kepiawainnya. Meski hanya sebagai simbol, pencak silat juga mengandung makna persahabatan dan kasih sayang yang dibungkus dengan jiwa kepahlawanan. Setelah permainan silat, rombongan pengantin melanjutkan perjalanannya, biasanya diteruskan dengan kegiatan perang beras kunyit antara pihak pengantin laki-laki dan pihak yang menyambutnya. 

Perang Beras Kunyit antar kedua pihak pengantin, bukan mengobarkan permusuhan, melainkan menyuburkan persaudaraan. Setelah permainan silat dan perang beras kunyit selesai, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan bertukar tepak induk. Kenapa tepak perlu ditukar? Sebab, simbol tepak melambangkan rasa tulus hati dalam menyambut tamu dan juga sebagai lambang persaudaraan. Isi dalam tepak berupa daun sirih, kapur, gambir, pinang, dan tembakau. Kegiatan ini dilakukan setelah rombongan pengantin laki-laki masuk ke halaman rumah pengantin perempuan. Kegiatan ini dapat dilakukan di dalam atau di luar rumah. Bertukar Tepak melambangkan ketulusan hati dan bersebatinya dua keluarga menjadi satu. Kegiatan terakhir dalam upacara langsung adalah berbalas pantun pembuka pintu yang dilakukan di ambang pintu rumah pengantin perempuan. Kegiatan ini bentuknya adalah saling bersahutan pantun antara pemantun pihak pengantin laki-laki dengan pemantun pihak pengantin perempuan yang disaksikan oleh Mak Adam. Fungsi dari kegiatan ini biasanya dipahami sebagai bentuk izin untuk memasuki rumah pengantin perempuan. Setelah Mak Adam atau pemantun pihak pengantin perempuan membuka kain penghalang pintu dan mempersilahkan tamu untuk masuk, maka kegiatan ini dianggap selesai. Berbalas pantun Pembuka Pintu menunjukkan adab sopan santun pengantin laki-laki memasuki kehidupan pengantin perempuan. Upacara Bersanding/ Acara bersanding merupakan puncak dari seluruh upacara perkawinan. Setelah pasangan pengantin berijab-kabul, pengantin laki-laki akan balik ke tempat persinggahannya untuk beristirahat sejenak. Demikian halnya pengantin perempuan perlu kembali ke balik bilik untuk istirahat juga. Setelah keduanya beristirahat kemudian dilangsungkan upacara bersanding. Wakil pihak pengantin perempuan menemui wakil pihak pengantin laki-laki dengan membawa sebuah bunga yang telah dihias dengan begitu indah. Bunga yang diberikan ini menandakan bahwa pengantin perempuan telah siap menanti kedatangan pengantin laki-laki ke tempat persandingan. Pengantin laki-laki kemudian dijemput untuk disandingkan dengan pasangannya.
 
BERSANDING

Menyandingkan penganting laki-laki dengan pengantin perempuan yang disaksikan oleh seluruh keluarga, sahabat, dan jemputan. Inti dari kegiatan ini adalah mengumumkan kepada khalayak umum bahwa pasangan pengantin sudah sah sebagai pasangan suami-istri. 

Seperti halnya dilakukan dalam upacara akad nikah, dalam upacara langsung juga dilakukan tepuk tepung tawar untuk mengantisipasi jika ada yang belum sempat menyaksikannya pada upacara akad. Sebagaimana disebutkan dalam ungkapan adat sebagai berikut: 
Tiada saat seindah ketika bersanding di pelaminan, bertabur senyum, salam, dan sejahtera
Apabila pengantin duduk bersanding
Sampailah niat usailah runding
Tanda pasangan sudah sebanding
Hilanglah batas habis pendinding
Dalam ungkapan adat lain disebutkan
Pengantin bersanding bagaikan raja
Disaksikan oleh tua dan muda
Tanda bersatu kedua keluarga
 Pahit dan manis sama dirasa
 
 http://www.riaudailyphoto.com/search/label/MALAY%20CULTURE

SURAT KAPAL


 in , ,
Dalam masyarakat Melayu Indragiri Hulu, salah satu prosesi adat pernikahan adalah membacakan Surat Kapal atau bisa juga disebut dengan Syair Cendrawasih atau Cerita Kapal. Syair Cenderawasih merupakan syair yang khusus dibacakan ketika keturunan bangsawan menikah, baik sesama keturunan bangsawan (Raja) maupun salah satu diantaranya berdarah biru. Sedangkan Surat Kapal atau Cerita  Kapal khusus dibacakan dan dilantunkan bagi orang kebanyakan (masyarakat umum).
Surat Kapal menceritakan siapa calon pengantin, dimana pertemuannya, apa aktivitasnya, siapa keluarganya dan keturunannya dan melalui syair Surat Kapal ini calon pengantin diminta belajar banyak bagaimana filosofis perjalanan kapal. Seperti bagaimana melawan ombak perkawinan, riak-riak kecil perjalanan rumah tangga dan sebagainya.
Berikut contoh Surat Kapal di salah pesta pernikahan di Kecamatan Peranap, Indragiri Hulu :

1. Dengan bismillah saya mulakan
Assalamualaikum saya ucapkan
Tiada lain untuk tujuan
Surat kapal saya bacakan

2. Rumpun bambu di tepi perigi
Tumbuh rebung menjadi buluh
Ampun hamba tegak berdiri
Wujudnya hamba duduk bersimpuh

3. Pujian syukur kita panjatkan
Ke hadirat Allah pencipta alam
Melimpahkan rahmat siang dan malam
Kepada umat penghuni alam

4. Selawat dan salam beriring pula
Nabi Muhammad pemimpin kita
Salat lima waktu janganlah lupa
Salat disebut tiang agama

5. Dengan bismillah permulaan kalam
Kertas dan dawat berwarna hitam
Cerita dibuat siang dan malam
Menyampaikan hajat seorang insane

6. Kami kisahkan seorang pemuda
Duduk termenung berhati hiba
Niat di hati mencari intan permata
Di rawah kononnya ada

7. Duduk di teras di atas kursi
Ambil gitar bawa bernyanyi
Lagunya merdu bernada tinggi
Lagunya bernama si jali-jali

8. Encik Masbah seorang pemuda
Pergi berjalan kendaraan honda
Astrea grand ataupun supra
Cari hiburan senang hatinya

9. Amaliah terpandang pula
Kecik dan mungil pula manis wajahnya
Masbah tercantul hati dia
Ingin berkenalan malu pula

10. Besok harinya diulang lagi
Terus-terang saja tak sabar lagi
Malam tadi ku tidur bermimpi
Gadis kuidamkan di pelukan ini

11. Teringat semalam tidur bermimpi
Gadis yang tampak berjumpa lagi
Inikah jodoh Tuhan takdiri
Siang terbayang malam bermimpi

12. Pulang ke rumah menguruh dada
Ada dibuat tak tentu arah
Kepala sakit serasa pecah
Dia mengadu ke ibu tercinta

13. Wahai ayah dan ibuku
Tolonglah anak tolonglah daku
Kemana saja tempat mengadu
Pikiran kacau tiada menentu

14. Wahai anak sabarlah dulu
Aku berunding ke Pak Itam dulu
Runding yang baik tak perlu ditunggu
Pak Kocik Asim sudah setuju

15. Sanak saudara sudah mufakat
Pergi berunding untuk mengikat
Mengikat janji berupa adat
Begitu lazim sudah dibuat

16. Pak Itam dan Pak Andak pergi berunding
Pak Kocik duduk berdamping
Runding yang baik iring beriring
Tidak sampai tuding-menuding

17. Silat Pangean gayanya lambat
Satu menggayung satu menyambut
Ibarat benang tiada yang kusut
Mufakat yang baik turut-menurut

18. Tiada lama hari ditunda
Ijab Kabul di kantor Pak KUA
Mas kawinnya duit tersebut pula
Diserahkan pula di depan Pak KUA

19. Kini Masbah senang hatinya
Ibarat bunga indah jadi miliknya
Sepasang mempelai menjadi riang
Hati yang sempit menjadi lapang

20. Berbilang hari berbilang minggu
Tiada terasa lama menunggu
Lebaran haji telah berlalu
Pestanya segera tak lama menunggu

21. Sanak famili dikasi tau
Di hulu di hilir dijemput dahulu
Di Pulau Gelang atau Kuantan Babu
Di Sungai Beringin atau Pasir Kemilu

22. Siapkan kapal mana yang rusak
Lunas diganti kayunya cempedak
Papannya diganti kayunya resak
Maklum saja menempuh ombak

23. Papannya banyak dimakan kapang
Setiap keeping banyak berlubang
Bosnya pening bila memandang
Duitnya habis buat upah tukang

24. Lebih dan kurang selesai sudah
Baut dicabut dipasang pula
Setiap tiang dipasang bendera
Warnanya banyak berupa-rupa

25. Tinggal berangkat tunggu-menunggu
Siap berangkat perintah cincu
Ke pelabuhan syah Bandar tempat dituju
Meneken buku penting dahulu

26. Kapal bernama Samudra Jaya
Berlayar sampai ke Malaysia
Dipimpin oleh seorang pemuda
Lengkap semua dengan ABK

27. Kapalnya sarat muatan barang
Ditambah pula ramai penumpang
Ada yang kocik ada yang godang
Kapalnya oleng anginnya kencang

28. Encik Masbah nama nakhoda
Petunjuk jalan jangan cerita
Duduk di kamar melihat peta
Orangnya ramah suka ketawa

29. Kapal berangkat pelabuhan Pak Wandi
Haluan menuju pelabuhan Cik Masri
Kapalnya laju Allahu robbi
Penumpang di kapal banyak yang ngeri

30. Cik Iyus dijadikan serang
Badannya kecil akalnya panjang
Kerjanya sedikit upah nak godang
Tiada yang sanggup nak menentang

31. Encik si Jok dijadikan kuancah
Kerja di kapal alhamdulillah
Mesin yang baik menjadi pecah
Karena ulahnya banyak keletah

32. Gendang dan gong berbunyi pula
Orang bersilat mulai melangka
Langkah dibuang digayung pula
Lawan menyambut dielakkan saja

33. Orang bersorak riuh bunyinya
Tepukan tangan sangat meria
Tradisi Melayu tegakkan pula
Tidaklah lapuk dimakan masa

34. Encik si Jam si Tukang Minyak
Kerja di kapal asik main lantak
Kalau bergurau tak pula mengelak
Terjang-menerjang sepak-menyepak

35. Encik Bujang Maligai dari kelasi
Kerja di kapal si tukang tali
Kerjanya tangkas bukan main lagi
Tali yang putus disambung kembali

36. Kapal kini merapat sudah
Nakhoda turun sangat gagahnya
Raja sehari digelar pula
Memakai keris serta mahkota

37. Nakhoda tegak di depan rumah
Permaisuri lalu dipapah
Encik dayang mengiring pula
Pengantin tegak bersanding pula

38. Wahai encik dan puan-puan
Silahkan masuk para undangan
Silahkan duduk di dalam ruangan
Ambillah nasi silahkan makan

39. Tepuk anak Melayu asli
Selesai ditepuk mengangkat sembah
Memberi tepuk kemarahan hati
Memohon maaf kepada Allah

40. Bukan lebah sembarang lebah
Lebah bersarang di rumpun buloh
Bukan sembah sembarang sembah
Sembah menyusun jari sepuluh

41. Cantik kembang bunga melati
Tumbuh sebatang di tengah kota
Patah tumbuh hilang berganti
Adat pusaka terpelihara juga

42. Sedikit lagi patik bertitah
Pesan patik jadikan petuah
Mari laksanakan program pemerintah
Tak usah banyak-banyak, due cukuplah

43. Akhirulkalam saye ucapkan
Sampai di sini saye sudahan
Terima kasih atas perhatian
Mohon maaf atas segala kesalahan 
SYAIR SURAT CENDERAWASIH
ACARA PESTA PERKAWINAN
RAJA OLIVIA REINDRA LESTARI DENGAN ZULFAHMI ADRIAN
JL. A. YANI, RENGAT, 21 OKTOBER 2001
PENGARANG DAN PENYAIR : BAHTARAM IB.



1. Bismillah itu mule direke
Sudah direke baru dikarang
Pesta perkawinan ini diberkati Yang Mahakuase
Karena kerja kerasnya panitia siang malam

2. Assamulaikum salam pertame
Warahmatullah tambahan kedue
Kepade undangan encik puan-puan semue
Inilah kisah seorang juragan laksamane mude

3. Laksmane Zulfahmi kenal pertame dengan Olivia Lestari
Di Pekanbaru tak tentu kali
Hari ke hari tak dapat dilupekan lagi
Sehingge keduenye hubungan pacaran dimulai

4. Laksmane mude Zulfahmi termenung seorang diri
Bagaimane nasib hambanye ini
Lame sudah bete membujangkan diri
Sudah waktunye mencari permaisuri

5. Laksmane Zulfahmi menghadap ayah ibu
Menceritekan gembira hatinya
Telah berjumpe calon permaisuri yang dicarinye
Supaye ayah dan ibu pergi meminangnye

6. Orang tue Zulfahmi tersenyum menjawab kate
Sambil menatap muke anaknye
Di mane calon permaisuri yang anakku jumpe
Di istane mane dan siape namenye

7. Kalau ayah nak tahu name calon permaisurinye
Begitu juge name orang tuenye
Namenye Olivia Reindra Lestari cantik jelite
Bapak R. Thamsir Rachman dan Mastiati Sriningsih orang tuenye

8. Sudah dipikirkan segale masalahnye
Orang tue Zulfahmi berunding dengan keluarge
Berembuk mufakat bagaimane mestinye
Untuk meminang Olivia Reindra Lestari jelite

9. Orang tue Zulfahmi seraye bermade
Bapak Nudirsyah diutus sebagai ketuenye
Ke rumah Raja Thamsir Rahman, Tengku Arif tuenye
Meminang Olivia Reindra Lestari untuk Laksmane Zulfahmi katenye

10. Kami akan meneruskan cerite
Di rumah Bapak Raja Thamsir Rachman rombongan tibe
Mereke disambut dengan ramahnye
Ade yang tersenyum ade pula yang ketawe

11. Bapak Nudirsyah memperkenalkan rombongannye
Serte menyampaikan hajat hatinye
Untuk meminang Olivia Reindra Lestari jelite
Menjadi permaisuri Zulfahmi Adrian jejake

12. Bapak Tengku Arif bermufakat
Lamaran diterime dengan suara bulat
Kate Bapak Encik Umar tukar cincin sebagai pengikat
Menentukan hari pernikahan juge dibuat

13. Kami lanjutkan suatu cerite
Waktu pernikahan sampai masenye
Hari Jumat tanggal 19 Oktober 2001 malam akad nikahnye
Bapak H. Saleh Djasit, S.H. dan Bapak Riva’i Rachman saksinye

14. Pade hari Sabtu yang dijadwalkan
Laksmane Zulfahmi diberangkatkan
Menjemput permaisuri yang handalan
Di istane Bapak Raja Thamsir Rachman Bupati Inhu

15. Cenderawasih terbang amat lajunye
Keluarge ditinggalkan sayup nampeknye
Laksmane Zulfahmi bertanye pada dubalangnye
Jauhkah lagi istane mertuenye

16. Wahai laksmane sabarlah, tuan
Kite terbang tidak menempuh malam
Perbelakalan cukup untuk di perjalanan
Beras ade, kue khasidah, dan bolu beghondam

17. Juragan Laksmane Zulfahmi berangkat dengan cenderawasih
Turun menukik di istane Bapak Raja Thamsir Rachman
Pelaksanaan pesta ini diberkati Illahi
Semue kegiatan selesai aman tak ade gangguan

18. Ramai undangan bukan kepalang
Menunggu laksmane Zulfahmi sudah datang
Tamu diundang bukan sembarangan
Dari Jakarta, Pekanbaru sampai ke pedesaan

19. Buah kuini diberi bubur
Bakarlah roti dengan jurami
Syair Cenderawasih untuk menghibur
Semue undangan yang datang hari ini

20. Burung belibis terbang ke sawah
Burung merpati memakan padi
Dawat habis kalam pun patah
Syair Cenderawasih hanye sampai di sini


http://www.riaudailyphoto.com/2012

Pramuka SMA Negeri 1 Singkep Barat Raih Prestasi Gemilang di Kemsar Budaya 2025

  Pramuka SMA Negeri 1 Singkep Barat Raih Prestasi Gemilang di Kemsar Budaya 2025 Lingga — Regu Pramuka SMA Negeri 1 Singkep Barat meno...