Kamis, 01 Maret 2012

PROSESI ADAT PERKAWINAN MELAYU RIAU

PROSESI ADAT PERKAWINAN MELAYU RIAU (THE RIAU MALAY WEDDING PROCCES)


Setelah melalui proses yang cukup panjang , dimulai dari Merisik hingga ke Pertunangan, maka kemudian dilanjutkan dengan acara perkawinan. Dalam adat melayu Riau Prosesi Perkawinan sangat banyak kita jumpai dan bahkan berbeda-beda, Melayu Indragiri (Rengat), Kampar, Kuantan Singingi, ataupun melayu Siak, Bengkalis, upacara perkawinan ini dianggap amat sakral bahkan tidak boleh ada satupun rangkaian prosesi adat yang terlewatkan. Berikut Prosesi Adat Melayu Riau dalam perkawinan pada umumnya :
 

MENGGANTUNG-GANTUNG

Pengantin ibarat raja dan ratu sehari, maka untuk keduanya disiapkan pelaminan yang megah bak singgasana.

Acara mengantung-gantung diadakan beberapa hari sebelum perkawinan atau persandingan dilakukan. Bentuk kegiatan dalam upacara ini biasanya disesuaikan dengan adat di masing-masing daerah yang berkisar pada kegiatan menghiasi rumah atau tempat akan dilangsungkannya upacara pernikahan, memasang alat kelengkapan upacara, dan sebagainya. Yang termasuk dalam kegiatan ini adalah: membuat tenda dan dekorasi, menggantung perlengkapan pentas, menghiasi kamar tidur pengantin, serta menghiasi tempat bersanding kedua calon mempelai. Upacara ini menadakan bahwa budaya gotong-royong masih sangat kuat dalam tradisi Melayu. Upacara ini harus dilakukan secara teliti dan perlu disimak oleh orang-orang yang dituakan agar tidak terjadi salah pasang, salah letak, salah pakai, dan sebagainya. Ungkapan adat mengajarkan hal ini sebagai berikut: 
Adat orang berhelat jamu
Menggantung-gantung lebih dahulu
Menggantung mana yang patut
Memasang mana yang layak 
Sesuai menurut alur patutnya
Sesuai menurut adat lembaga
Supaya helat memakai adat
Supaya kerja tak sia-sia
Supaya tidak tersalah pasang
Supaya tidak tersalah pakai 
MALAM BERINAI
Adat atau upacara berinai merupakan pengaruh dari ajaran Hindu. Makna dan tujuan dari perhelatan upacara ini adalah untuk menjauhkan diri dari bencana, membersihkan diri dari hal-hal yang kotor, dan menjaga diri segala hal yang tidak baik. Di samping itu tujuannya juga untuk memperindah calon pengantin agar terlihat lebih tampak bercahaya, menarik, dan cerah. Upacara ini merupakan lambang kesiapan pasangan calon pengantin untuk meninggalkan hidup menyendiri dan kemudian menuju kehidupan rumah tangga. Dalam ungkapan adat disebutkan: 
Malam berinai disebut orang
Membuang sial muka belakang
Memagar diri dari jembalang
Supaya hajat tidak terhalang
Supaya niat tidak tergalang
Supaya sejuk mata memandang
Muka bagai bulan mengambang
Serinya naik tuah pun datang
Berinai bukan sekadar memerahkan kuku, namun memper- siapkan pengantin agar dapat menjalani pernikahan tanpa aral halangan. 
Seri kecantikan diperoleh melalui kesabaran.
Pengantin harus berdiam diri , sabar menanti, agar inai yang dipasang di 
      jemari,tangan    dan kaki menghasilkan warna cerah yang berseri
Upacara ini dilakukan pada malam hari, yaitu dimalam sebelum upacara perkawinan dilangsungkan. Bentuk kegiatannya bermacam-macam asalkan bertujuan mempersiapkan pengantin agar tidak menemui masalah di kemudian hari. Dalam upacara ini yang terkenal biasanya adalah kegiatan memerahkan kuku, tetapi sebenarnya masih banyak hal lain yang perlu dilakukan. Upacara ini dilakukan oleh Mak Andam dibantu oleh sanak famili dan kerabat dekat. Upacara berinai bagi pasangan calon pengantin dilakukan dalam waktu yang bersama-sama. Hanya saja, secara teknis tempat kegiatan ini dilakukan secara terpisah, bagi pengantin perempuan dilakukan di rumahnya sendiri dan bagi pengantin laki-laki dilakukan di rumahnya sendiri atau tempat yang disinggahinya. Namun, dalam adat perkawinan Melayu biasanya pengantin lak-laki lebih didahulukan.  


UPACARA BERANDAM
 
Upacara berandam dilakukan pada sore hari ba'da Ashar yang dipimpin oleh Mak Andam didampingi oleh orang tua atau keluarga terdekat dari pengantin perempuan. Awalnya dilakukan di kediaman calon pengantin perempuan terlebih dahulu yang diringi dengan musik rebana. Setelah itu baru kemudian dilakukan kegatan berandam di tempat calon pengantin laki-laki. Sebelum berandam kedua calon pengantin harus mandi berlimau dan berganggang terlebih dahulu. Makna dari upacara berandam adalah membersihkan fisik (lahiriah) pengantin dengan harapan agar batinnya juga bersih. Makna simbolisnya adalah sebagai lambang kebersihan diri untuk menghadapi dan menempuh hidup baru. Sebagaimana disebutkan dalam ungkapan adat: 
Adat Berandam disebut orang 
Membuang segala yang kotor
Membuang segala yang buruk
Membuang segala sial
Membuang segala pemali
Membuang segala pembenci
Supaya seri naik ke muka
Supaya tuah naik ke kepala
Supaya suci lahir batinnya
Kecantikan budi mestilah yang utama
keelokan paras tiada boleh terlupa. 
Untuk itulah, Mak Andam merias calon pengantin agar kemolekan makin ternampak nyata./ Berandam yang paling utama adalah mencukur rambut karena bagian tubuh ini merupakan letak kecantikan mahkota perempuan. Di samping itu, berandam juga mencakup kegiatan: mencukur dan membersihkan rambut-rambut tipis sekitar wajah, leher, dan tengkuk; memperindah kening; menaikkan seri muka dengan menggunakan sirih pinang dan jampi serapah. Setelah berandam kemudian dilakukan kegiatan mandi tolak bala, yaitu memandikan pengantin dengan menggunakan air bunga dengan 5, 7, atau 9 jenis bunga agar terlihat segar dan berseri. Kegiatan ini harus dilakukan sebelum waktu shalat ashar. Mandi tolak bala kadang disebut juga dengan istilah ?mandi bunga?. Tujuan mandi ini adalah menyempurnakan kesucian, menaikkan seri wajah, dan menjauhkan dari segala bencana. Dalam ungkapan adat disebutkan: 
Mandi Bunga atau Mandi Tolak Bala bukan sekadar untuk meng- harumkan raga, namun agar jiwa bersih suci, jauh dari iri dengki
Hakekat mandi tolak bala
Menolak segala bala
Menolak segala petaka
Menolak segala celaka
Menolak segala yang berbisa
Supaya menjauh dendam kesumat
Supaya menjauh segala yang jahat
Supaya menjauh kutuk dan laknat
Supaya setan tidak mendekat
Supaya iblis tidak melekat
Supaya terkabul pinta dan niat
 Supaya selamat dunia akhirat
UPACARA KHATAM QUR'AN

Pelaksanaan upacara khatam Qur'an biasanya dilakukan setelah upacara berandam dan mandi tolak bala sebagai bentuk penyempurnaan diri, baik secara lahir maupun batin. Upacara khatam Qur?an sebenarnya bermaksud menunjukkan bahwa pengantin perempuan sudah diajarkan oleh kedua orang tuanya tentang bagaimana mempelajari agama Islam dengan baik. Dengan demikian, sebagai pengantin perempuan dirinya telah dianggap siap untuk memerankan posisi barunya sebagai istri sekaligus ibu dari anak-anaknya kelak. Di samping itu tujuan lainnya adalah untuk menunjukkan bahwa keluarga calon pengantin perempuan merupakan keluarga yang kuat dalam menganut ajaran Islam, sebagaimana dinyatakan dalam ungkapan adat: 
Pendidikan boleh tiada tamat, ijazah boleh tiada dapat, 
tetapi khatam Al Qur'an tiada boleh terlewat.
Dari kecil cincilak padi 
Sudah besar cincilak Padang 
Dari kecil duduk mengaji
Sudah besar tegakkan sembahyang
Upacara ini dipimpin oleh guru mengajinya atau orang tua yang ditunjuk oleh keluarga dari pihak pengantin. Upacara ini khusus dilakukan oleh calon pengantin perempuan yang biasanya perlu didampingi oleh kedua orang tua, atau teman sebaya, atau guru yang mengajarinya mengaji. Mereka duduk di atas tilam di depan pelaminan. Mereka membaca surat Dhuha sampai dengan surat al-Fatihah dan beberapa ayat al-Qur'an lainnya yang diakhiri dengan doa khatam al-Qur?an

ACARA HANTARAN BELANJA
Antar belanja atau yang biasanya dikenal dengan  dilakukan beberapa hari sebelum upacara akad atau sekaligus menjadi satu rangkaian dalam upacara akad nikah. Jika antar belanja diserahkan pada saat berlangsungnya acara perkawinan, maka antar belanja diserahkan sebelum upacara akad nikah. Beramai-ramai, beriring-iringan, kerabat calon pengantin laki-laki membawa antara belanja kepada calon pengantin wanita. 
Konsep pemikiran dari upacara antar belanja adalah simbol dari peribahasa-peribahasa seperti rasa senasib sepenanggungan,rasa seaib dan semalu, yang berat sama dipikul yang ringan sama dijinjing. Makna dalam upacara antar belanja ini adalah rasa kekeluargaan yang terbangun antara keluarga pengantin laki-laki dan pengantin perempuan. Oleh karena makna dan tujuannnya adalah membangun rasa kekeluargaan, maka tidak dibenarkan jumlah diantarkan menimbulkan masalah yang menyakiti perasaan di antara mereka. Ungkapan adat mengajarkan: 
Adat Melayu sejak dahulu 
Antar belanja menebus malu
Tanda senasib seaib semalu
Berat dan ringan bantu-membantu
ACARA AKAD NIKAH
Ketika rombongan calon pengantin laki-laki Upacara akad nikah merupakan inti dari seluruh rangkaian upacara perkawinan. Sebagaimana lazimnya dalam adat perkawinan menurut ajaran Islam, upacara akad nikah harus mengandung pengertian ijab dan qabul. Dalam ungkapan adat disebutkan bahwa: 
Seutama-utama upacara pernikahan
Ialah ijab kabulnya
Di situlah ijab disampaikan
 Si situlah kabul dilahirkan
Di situlah syarak ditegakkan
Di situlah adat didirikan
Di situlah janji dibuhul
Di situlah simpai diikat
Di situlah simpul dimatikan
Tanda sah bersuami isteri
Tanda halal hidup serumah
Tanda bersatu tali darah
Tanda terwujud sunnah Nabi
Dengan terucapnya ijab dan kabul, tanggung jawab ayah atas anak gadisnya beralih sudah kepada menantu laki-laki.
Pemimpin upacara ini biasanya adalah kadi atau pejabat lain yang berwenang. Setelah penyataan ijab dan qabul telah dianggap sah oleh para saksi, kemudian dibacakan doa /walimatul urusy/ yang dipimpin oleh kadi atau orang yang telah ditunjuk. Setelah itu, baru kemudian pengantin laki-laki mengucapkan /taklik/ (janji nikah) yang dilanjutkan dengan penandatanganan Surat Janji Nikah. Penyerahan mahar oleh pengantin laki-laki baru dilakukan sesudahnya. 

UPACARA MENYEMBAH

Setelah upacara akad nikah selesai dilakukan seluruhnya, kedua pengantin kemudian melakukan upacara menyembah kepada ibu, bapak, dan seluruh sanak keluarga terdekat. 
Makna dari upacara ini tidak terlepas dari harapan agar berkah yang didapat pengantin nantinya berlipat ganda. Acara ini dipimpin oleh orang yang dituakan bersama Mak Andam. Sembah sujud kepada orang tua tiada boleh lupa, agar tuah dan berkah turun berlipat ganda.
TEPUK TEPUNG TAWAR
Setelah upacara menyembah selesai, kemudian dilanjutkan dengan upacara tepuk tepung tawar. Makna dari upacara adalah pemberian doa dan restu bagi kesejahteraan kedua pengantin dan seluruh keluarganya, di samping itu juga bermakna sebagai simbol penolakan terhadap segala bala dan gangguan yang mungkin diterimanya kelak. Upacara ini dilakukan oleh unsur keluarga terdekat, unsur pemimpin atau tokoh masyarakat, dan unsur ulama. Yang melakukan tepung tawar terakhir juga bertindak sebagai pembaca doa. /Tepuk Tepung Tawar hakikatnya adalah pertanda, bahwa para tetua melimpahkan restu dan doa, bahwa marwah pengantin kekal terjaga. Dalam ungkapan adat disebutkan bahwa makna dari Tepuk Tepung Tawar adalah :
Menawar segala yang berbisa
Menolak segala yang menganiaya 
Menepis segala yang berbahaya
Mendingin segala yang menggoda
Menjauhkan dari segala yang menggila
Jadi, upacara Tepuk Tepung Tawar bermakna sebagai doa dan pengharapan. Dalam pantun nasehat disebutkan: Di dalam Tepuk Tepung Tawar, terkandung segala restu, terhimpun segala doa, terpateri segala harap, tertuang segala kasih sayang. Dalam pantun lain disebut juga bahwa: 
Tepung tawar untuk penawar
Supaya hidup tidak bertengkar
Wabah penyakit tidak menular
Semua urusan berjalan lancar
Kegiatan ini dilakukan dengan rincian: menaburkan tepung tawar ke telapak tangan kedua pengantin, mengoleskan inai ke telapak tangan mereka, dan menaburkan beras kunyit dalam bunga rampai kepada kedua pengantin. Setelah upacara ini selesai berarti telah selesai upacara inti perkawinan. Setelah itu tinggal melakukan upacara-upacara pendukung lainnya, seperti upacara nasehat perkawinan dan jamuan makan bersama.
MENGARAK PENGANTIN LELAKI
Upacara ini bentuknya adalah mengarak pengantin laki-laki ke rumah orang tua pengantin perempuan. Tujuan dari upacara ini sebagai media pemberitahuan kepada seluruh masyarakat sekitar tempat dilangsungkannya perkawinan bahwa salah seorang dari warganya telah sah menjadi pasangan suami-istri. Di samping itu, tujuanya adalah memberitahukan kepada semua lapisan masyarakat agar turut meramaikan acara perkawinan tersebut, termasuk ikut memberikan doa kepada kedua pengantin. Upacara ini beragam bentuknya, tergantung adat yang berlaku di masing-masing daerah Melayu. Bernaung payung iram, diiringi rentak rebana dan gendang,pengantin laki-laki datang kepada dewi pujaan. Dalam upacara arak-arakan ini, yang dibawa adalah beragam alat kelengkapan. Namun, yang paling utama dibawa adalah jambar (di Riau lebih dikenal dengan semerit, pahar ,poha, dulang berkaki).  Isi dalam jambar terdiri dari tiga unsur, yaitu: unsur kain baju atau pakaian dengan kelengkapan perias, unsur makanan, dan unsur peralatan dapur. Ketiga unsur tersebut mengandung makna tentang kehidupan manusia sehari-hari. Jumlah jambar ditentukan berdasarkan adat setempat, asalkan maknanya sesuai dengan nilai Islam. Jumlah 17 adalah sama dengan jumlah rukun shalat, jumlah 17 terkait dengan jumlah rakaat sehari semalam, dan jumlah 25 terkait dengan jumlah rasul pilihan. 
Perang Beras Kunyit
Sesampainya rombongan arak-arakan pengantin laki-laki di kediaman keluarga pengantin perempuan, kemudian dilanjutkan dengan upacara penyambutan. Dalam budaya Melayu, upacara penyambutan tersebut mempunyai makna yang sangat dalam. Oleh karenanya, pengantin laki-laki perlu disambut dengan penuh kegembiraan sebagai bentuk ketulushatian dalam menerima kedatangan mereka. Upacara pencak silat merupakan perlambang kepiawaian pengantin laki-laki menghadapi tantangan.
Iringan Pengantin Laki-Laki dan Perempuan Saling Bertukar tepak
Upacara penyambutan arak-arakan pengantin laki-laki biasanya bentuknya tiga macam, yaitu permainan pencak silat, bertukar tepak induk, dan berbalas pantun pembuka pintu. Dalam kegiatan permainan pencak silat, makna yang terkandung di dalamnya adalah bahwa pengantin laki-laki sebagai calon kepala rumah tangga perlu ditantang kejantanan dan kepiawainnya. Meski hanya sebagai simbol, pencak silat juga mengandung makna persahabatan dan kasih sayang yang dibungkus dengan jiwa kepahlawanan. Setelah permainan silat, rombongan pengantin melanjutkan perjalanannya, biasanya diteruskan dengan kegiatan perang beras kunyit antara pihak pengantin laki-laki dan pihak yang menyambutnya. 

Perang Beras Kunyit antar kedua pihak pengantin, bukan mengobarkan permusuhan, melainkan menyuburkan persaudaraan. Setelah permainan silat dan perang beras kunyit selesai, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan bertukar tepak induk. Kenapa tepak perlu ditukar? Sebab, simbol tepak melambangkan rasa tulus hati dalam menyambut tamu dan juga sebagai lambang persaudaraan. Isi dalam tepak berupa daun sirih, kapur, gambir, pinang, dan tembakau. Kegiatan ini dilakukan setelah rombongan pengantin laki-laki masuk ke halaman rumah pengantin perempuan. Kegiatan ini dapat dilakukan di dalam atau di luar rumah. Bertukar Tepak melambangkan ketulusan hati dan bersebatinya dua keluarga menjadi satu. Kegiatan terakhir dalam upacara langsung adalah berbalas pantun pembuka pintu yang dilakukan di ambang pintu rumah pengantin perempuan. Kegiatan ini bentuknya adalah saling bersahutan pantun antara pemantun pihak pengantin laki-laki dengan pemantun pihak pengantin perempuan yang disaksikan oleh Mak Adam. Fungsi dari kegiatan ini biasanya dipahami sebagai bentuk izin untuk memasuki rumah pengantin perempuan. Setelah Mak Adam atau pemantun pihak pengantin perempuan membuka kain penghalang pintu dan mempersilahkan tamu untuk masuk, maka kegiatan ini dianggap selesai. Berbalas pantun Pembuka Pintu menunjukkan adab sopan santun pengantin laki-laki memasuki kehidupan pengantin perempuan. Upacara Bersanding/ Acara bersanding merupakan puncak dari seluruh upacara perkawinan. Setelah pasangan pengantin berijab-kabul, pengantin laki-laki akan balik ke tempat persinggahannya untuk beristirahat sejenak. Demikian halnya pengantin perempuan perlu kembali ke balik bilik untuk istirahat juga. Setelah keduanya beristirahat kemudian dilangsungkan upacara bersanding. Wakil pihak pengantin perempuan menemui wakil pihak pengantin laki-laki dengan membawa sebuah bunga yang telah dihias dengan begitu indah. Bunga yang diberikan ini menandakan bahwa pengantin perempuan telah siap menanti kedatangan pengantin laki-laki ke tempat persandingan. Pengantin laki-laki kemudian dijemput untuk disandingkan dengan pasangannya.
 
BERSANDING

Menyandingkan penganting laki-laki dengan pengantin perempuan yang disaksikan oleh seluruh keluarga, sahabat, dan jemputan. Inti dari kegiatan ini adalah mengumumkan kepada khalayak umum bahwa pasangan pengantin sudah sah sebagai pasangan suami-istri. 

Seperti halnya dilakukan dalam upacara akad nikah, dalam upacara langsung juga dilakukan tepuk tepung tawar untuk mengantisipasi jika ada yang belum sempat menyaksikannya pada upacara akad. Sebagaimana disebutkan dalam ungkapan adat sebagai berikut: 
Tiada saat seindah ketika bersanding di pelaminan, bertabur senyum, salam, dan sejahtera
Apabila pengantin duduk bersanding
Sampailah niat usailah runding
Tanda pasangan sudah sebanding
Hilanglah batas habis pendinding
Dalam ungkapan adat lain disebutkan
Pengantin bersanding bagaikan raja
Disaksikan oleh tua dan muda
Tanda bersatu kedua keluarga
 Pahit dan manis sama dirasa
 
 http://www.riaudailyphoto.com/search/label/MALAY%20CULTURE

SURAT KAPAL


 in , ,
Dalam masyarakat Melayu Indragiri Hulu, salah satu prosesi adat pernikahan adalah membacakan Surat Kapal atau bisa juga disebut dengan Syair Cendrawasih atau Cerita Kapal. Syair Cenderawasih merupakan syair yang khusus dibacakan ketika keturunan bangsawan menikah, baik sesama keturunan bangsawan (Raja) maupun salah satu diantaranya berdarah biru. Sedangkan Surat Kapal atau Cerita  Kapal khusus dibacakan dan dilantunkan bagi orang kebanyakan (masyarakat umum).
Surat Kapal menceritakan siapa calon pengantin, dimana pertemuannya, apa aktivitasnya, siapa keluarganya dan keturunannya dan melalui syair Surat Kapal ini calon pengantin diminta belajar banyak bagaimana filosofis perjalanan kapal. Seperti bagaimana melawan ombak perkawinan, riak-riak kecil perjalanan rumah tangga dan sebagainya.
Berikut contoh Surat Kapal di salah pesta pernikahan di Kecamatan Peranap, Indragiri Hulu :

1. Dengan bismillah saya mulakan
Assalamualaikum saya ucapkan
Tiada lain untuk tujuan
Surat kapal saya bacakan

2. Rumpun bambu di tepi perigi
Tumbuh rebung menjadi buluh
Ampun hamba tegak berdiri
Wujudnya hamba duduk bersimpuh

3. Pujian syukur kita panjatkan
Ke hadirat Allah pencipta alam
Melimpahkan rahmat siang dan malam
Kepada umat penghuni alam

4. Selawat dan salam beriring pula
Nabi Muhammad pemimpin kita
Salat lima waktu janganlah lupa
Salat disebut tiang agama

5. Dengan bismillah permulaan kalam
Kertas dan dawat berwarna hitam
Cerita dibuat siang dan malam
Menyampaikan hajat seorang insane

6. Kami kisahkan seorang pemuda
Duduk termenung berhati hiba
Niat di hati mencari intan permata
Di rawah kononnya ada

7. Duduk di teras di atas kursi
Ambil gitar bawa bernyanyi
Lagunya merdu bernada tinggi
Lagunya bernama si jali-jali

8. Encik Masbah seorang pemuda
Pergi berjalan kendaraan honda
Astrea grand ataupun supra
Cari hiburan senang hatinya

9. Amaliah terpandang pula
Kecik dan mungil pula manis wajahnya
Masbah tercantul hati dia
Ingin berkenalan malu pula

10. Besok harinya diulang lagi
Terus-terang saja tak sabar lagi
Malam tadi ku tidur bermimpi
Gadis kuidamkan di pelukan ini

11. Teringat semalam tidur bermimpi
Gadis yang tampak berjumpa lagi
Inikah jodoh Tuhan takdiri
Siang terbayang malam bermimpi

12. Pulang ke rumah menguruh dada
Ada dibuat tak tentu arah
Kepala sakit serasa pecah
Dia mengadu ke ibu tercinta

13. Wahai ayah dan ibuku
Tolonglah anak tolonglah daku
Kemana saja tempat mengadu
Pikiran kacau tiada menentu

14. Wahai anak sabarlah dulu
Aku berunding ke Pak Itam dulu
Runding yang baik tak perlu ditunggu
Pak Kocik Asim sudah setuju

15. Sanak saudara sudah mufakat
Pergi berunding untuk mengikat
Mengikat janji berupa adat
Begitu lazim sudah dibuat

16. Pak Itam dan Pak Andak pergi berunding
Pak Kocik duduk berdamping
Runding yang baik iring beriring
Tidak sampai tuding-menuding

17. Silat Pangean gayanya lambat
Satu menggayung satu menyambut
Ibarat benang tiada yang kusut
Mufakat yang baik turut-menurut

18. Tiada lama hari ditunda
Ijab Kabul di kantor Pak KUA
Mas kawinnya duit tersebut pula
Diserahkan pula di depan Pak KUA

19. Kini Masbah senang hatinya
Ibarat bunga indah jadi miliknya
Sepasang mempelai menjadi riang
Hati yang sempit menjadi lapang

20. Berbilang hari berbilang minggu
Tiada terasa lama menunggu
Lebaran haji telah berlalu
Pestanya segera tak lama menunggu

21. Sanak famili dikasi tau
Di hulu di hilir dijemput dahulu
Di Pulau Gelang atau Kuantan Babu
Di Sungai Beringin atau Pasir Kemilu

22. Siapkan kapal mana yang rusak
Lunas diganti kayunya cempedak
Papannya diganti kayunya resak
Maklum saja menempuh ombak

23. Papannya banyak dimakan kapang
Setiap keeping banyak berlubang
Bosnya pening bila memandang
Duitnya habis buat upah tukang

24. Lebih dan kurang selesai sudah
Baut dicabut dipasang pula
Setiap tiang dipasang bendera
Warnanya banyak berupa-rupa

25. Tinggal berangkat tunggu-menunggu
Siap berangkat perintah cincu
Ke pelabuhan syah Bandar tempat dituju
Meneken buku penting dahulu

26. Kapal bernama Samudra Jaya
Berlayar sampai ke Malaysia
Dipimpin oleh seorang pemuda
Lengkap semua dengan ABK

27. Kapalnya sarat muatan barang
Ditambah pula ramai penumpang
Ada yang kocik ada yang godang
Kapalnya oleng anginnya kencang

28. Encik Masbah nama nakhoda
Petunjuk jalan jangan cerita
Duduk di kamar melihat peta
Orangnya ramah suka ketawa

29. Kapal berangkat pelabuhan Pak Wandi
Haluan menuju pelabuhan Cik Masri
Kapalnya laju Allahu robbi
Penumpang di kapal banyak yang ngeri

30. Cik Iyus dijadikan serang
Badannya kecil akalnya panjang
Kerjanya sedikit upah nak godang
Tiada yang sanggup nak menentang

31. Encik si Jok dijadikan kuancah
Kerja di kapal alhamdulillah
Mesin yang baik menjadi pecah
Karena ulahnya banyak keletah

32. Gendang dan gong berbunyi pula
Orang bersilat mulai melangka
Langkah dibuang digayung pula
Lawan menyambut dielakkan saja

33. Orang bersorak riuh bunyinya
Tepukan tangan sangat meria
Tradisi Melayu tegakkan pula
Tidaklah lapuk dimakan masa

34. Encik si Jam si Tukang Minyak
Kerja di kapal asik main lantak
Kalau bergurau tak pula mengelak
Terjang-menerjang sepak-menyepak

35. Encik Bujang Maligai dari kelasi
Kerja di kapal si tukang tali
Kerjanya tangkas bukan main lagi
Tali yang putus disambung kembali

36. Kapal kini merapat sudah
Nakhoda turun sangat gagahnya
Raja sehari digelar pula
Memakai keris serta mahkota

37. Nakhoda tegak di depan rumah
Permaisuri lalu dipapah
Encik dayang mengiring pula
Pengantin tegak bersanding pula

38. Wahai encik dan puan-puan
Silahkan masuk para undangan
Silahkan duduk di dalam ruangan
Ambillah nasi silahkan makan

39. Tepuk anak Melayu asli
Selesai ditepuk mengangkat sembah
Memberi tepuk kemarahan hati
Memohon maaf kepada Allah

40. Bukan lebah sembarang lebah
Lebah bersarang di rumpun buloh
Bukan sembah sembarang sembah
Sembah menyusun jari sepuluh

41. Cantik kembang bunga melati
Tumbuh sebatang di tengah kota
Patah tumbuh hilang berganti
Adat pusaka terpelihara juga

42. Sedikit lagi patik bertitah
Pesan patik jadikan petuah
Mari laksanakan program pemerintah
Tak usah banyak-banyak, due cukuplah

43. Akhirulkalam saye ucapkan
Sampai di sini saye sudahan
Terima kasih atas perhatian
Mohon maaf atas segala kesalahan 
SYAIR SURAT CENDERAWASIH
ACARA PESTA PERKAWINAN
RAJA OLIVIA REINDRA LESTARI DENGAN ZULFAHMI ADRIAN
JL. A. YANI, RENGAT, 21 OKTOBER 2001
PENGARANG DAN PENYAIR : BAHTARAM IB.



1. Bismillah itu mule direke
Sudah direke baru dikarang
Pesta perkawinan ini diberkati Yang Mahakuase
Karena kerja kerasnya panitia siang malam

2. Assamulaikum salam pertame
Warahmatullah tambahan kedue
Kepade undangan encik puan-puan semue
Inilah kisah seorang juragan laksamane mude

3. Laksmane Zulfahmi kenal pertame dengan Olivia Lestari
Di Pekanbaru tak tentu kali
Hari ke hari tak dapat dilupekan lagi
Sehingge keduenye hubungan pacaran dimulai

4. Laksmane mude Zulfahmi termenung seorang diri
Bagaimane nasib hambanye ini
Lame sudah bete membujangkan diri
Sudah waktunye mencari permaisuri

5. Laksmane Zulfahmi menghadap ayah ibu
Menceritekan gembira hatinya
Telah berjumpe calon permaisuri yang dicarinye
Supaye ayah dan ibu pergi meminangnye

6. Orang tue Zulfahmi tersenyum menjawab kate
Sambil menatap muke anaknye
Di mane calon permaisuri yang anakku jumpe
Di istane mane dan siape namenye

7. Kalau ayah nak tahu name calon permaisurinye
Begitu juge name orang tuenye
Namenye Olivia Reindra Lestari cantik jelite
Bapak R. Thamsir Rachman dan Mastiati Sriningsih orang tuenye

8. Sudah dipikirkan segale masalahnye
Orang tue Zulfahmi berunding dengan keluarge
Berembuk mufakat bagaimane mestinye
Untuk meminang Olivia Reindra Lestari jelite

9. Orang tue Zulfahmi seraye bermade
Bapak Nudirsyah diutus sebagai ketuenye
Ke rumah Raja Thamsir Rahman, Tengku Arif tuenye
Meminang Olivia Reindra Lestari untuk Laksmane Zulfahmi katenye

10. Kami akan meneruskan cerite
Di rumah Bapak Raja Thamsir Rachman rombongan tibe
Mereke disambut dengan ramahnye
Ade yang tersenyum ade pula yang ketawe

11. Bapak Nudirsyah memperkenalkan rombongannye
Serte menyampaikan hajat hatinye
Untuk meminang Olivia Reindra Lestari jelite
Menjadi permaisuri Zulfahmi Adrian jejake

12. Bapak Tengku Arif bermufakat
Lamaran diterime dengan suara bulat
Kate Bapak Encik Umar tukar cincin sebagai pengikat
Menentukan hari pernikahan juge dibuat

13. Kami lanjutkan suatu cerite
Waktu pernikahan sampai masenye
Hari Jumat tanggal 19 Oktober 2001 malam akad nikahnye
Bapak H. Saleh Djasit, S.H. dan Bapak Riva’i Rachman saksinye

14. Pade hari Sabtu yang dijadwalkan
Laksmane Zulfahmi diberangkatkan
Menjemput permaisuri yang handalan
Di istane Bapak Raja Thamsir Rachman Bupati Inhu

15. Cenderawasih terbang amat lajunye
Keluarge ditinggalkan sayup nampeknye
Laksmane Zulfahmi bertanye pada dubalangnye
Jauhkah lagi istane mertuenye

16. Wahai laksmane sabarlah, tuan
Kite terbang tidak menempuh malam
Perbelakalan cukup untuk di perjalanan
Beras ade, kue khasidah, dan bolu beghondam

17. Juragan Laksmane Zulfahmi berangkat dengan cenderawasih
Turun menukik di istane Bapak Raja Thamsir Rachman
Pelaksanaan pesta ini diberkati Illahi
Semue kegiatan selesai aman tak ade gangguan

18. Ramai undangan bukan kepalang
Menunggu laksmane Zulfahmi sudah datang
Tamu diundang bukan sembarangan
Dari Jakarta, Pekanbaru sampai ke pedesaan

19. Buah kuini diberi bubur
Bakarlah roti dengan jurami
Syair Cenderawasih untuk menghibur
Semue undangan yang datang hari ini

20. Burung belibis terbang ke sawah
Burung merpati memakan padi
Dawat habis kalam pun patah
Syair Cenderawasih hanye sampai di sini


http://www.riaudailyphoto.com/2012

Sabtu, 11 Februari 2012

Perpustakaan Melayu Riau yang Nyaris Roboh



Oleh: Noer Faisal[2]
Raja Malik Afrizal (37), tertunduk lesu menatap beberapa meriam sisa-sisa peninggalan kerajaan Melayu Riau di Benteng Bukit Kursi, Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau.
Meriam peninggalan sejarah dalam memperjuangan kemerdekaan bangsa itu hanya tinggal menunggu waktu saja, kondisinya yang sudah lusuh dan tak terawat seakan mendekatkannya menjadi barang rongsokan yang tidak berharga.
Raja Malik Afrizal, salah satu pewaris dan keturunan Yang Dipertuan Muda Riau yang masih tinggal di Pulau Penyengat. Tugasnya mengumpulkan seluruh peninggalan yang ada di pulau tersebut, baik berupa benda cagar budaya maupun catatan-catatan tentang riwayat kerajaan Melayu Riau selama berada di Pulau Penyengat.
Peninggalan sejarah yang ada disini nyaris tidak sanggup dipertahankan, kondisinya mulai keropos. Hanya beberapa tempat saja yang masih terawat dengan baik. “Perhatian pemerintah sangat kurang dalam merawat cagar budaya ini,” kata Raja Malik.
Sejarah pulau Penyengat memang cukup panjang dan hampir terlupakan. Dari pulau seluas 3,5 kilometer ini, telah lahir seorang pujangga yang menyusun kaidah-kaidah tata bahasa, ejaan dan perkamusan bahasa melayu, yakni Raja Ali Haji. Penyusunan kaidah tata bahasa Melayu tersebut merupakan pengejawantahan dari keyakinan  Raja Ali Haji bahwa bahasa Melayu Riau layak dipakai sebagai bahasa surat-menyurat, bahasa buku, dan kesusastraan.
Pulau Penyengat terletak di sebelah barat kota Tanjung Pinang, dengan jarak sekitar 1,5 kilometer. Tanjung Pinang sendiri berada sekitar 10 kilometer sebelah timur laut Pulau Batam, kota industri di Provinsi Kepulauan Riau. Penduduk pulau kecil ini berdasarkan sensus tahun 2005 hanya sebesar 2.224 jiwa.
Letak pulau ini sangat strategis, jika sedang berada di puncak Benteng Bukit Kursi, secara kasat mata dapat melihat berbagai kapal-kapal ferry yang sedang masuk ke dan keluar dari pelabuhan di Tanjung Pinang. Tidak hanya kapal ferry, semua aktivitas ke luar-masuk wilayah pedalaman Riau dapat terpantau dari bukit ini. Posisinya persis seperti sebuah pos penjagaan di pintu gerbang utama.
Tidak salah jika pada perang Riau melawan Belanda pada tahun 1782 hingga 1784, Pulau Penyengat dijadikan sebagai pusat pertahanan yang utama. Sistem pertahanan di Pulau Penyengat sudah meniru gaya pertahanan Portugis, yaitu mengelilingi pulau dengan benteng batu-batu cadas. Saat ini sisanya masih dapat terlihat, namun dalam kondisi yang tidak terawat.
Keberadaan Pulau Penyengat semakin penting tatkala pada tahun 1803 status sebagai pusat pertahanan ditingkatkan menjadi sebuah negeri. Dengan demikian, Pulau Penyengat dikepalai oleh Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau-Lingga, tangan kanan Sultan dalam memerintah. Sedangkan Sultan ketika itu masih berada di pusat pemerintahaan di Daik Lingga, kini menjadi Kabupaten Lingga.
Baru kemudian pada tahun 1900, Sultan Abdul Rahman Muazam Syah yang memerintah Kerajaan Melayu Riau memindahkan pusat pemerintahaan ke Pulau Penyengat. Sultan Abdul Rahman memerintah dari tahun 1883 hingga 1911. Sultan ini berkuasa dari Riau hingga Johor dan Pahang (kini Malaysia).
Seiring dengan semakin berkembangnya Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahaan, penyebaran agama Islam, dan kebudayaan Melayu, tempat ini menjadi kawasan yang cukup penting. Namun situasi perebutan kekuasaan negara-negara Barat terhadap Selat Malaka menjadikan Pulau Penyengat kembali meredup. Sultan Abdul Rahman yang tidak bersedia menandatangani kontrak yang isinya menghilangkan hak dan kekuasaan raja dan pembesar-pembesar tradisional Riau pindah ke Singapura, untuk menghindari kekuatan Belanda.
Ketika sampai di Singapura, raja memerintahkan kepada rakyat di pulau penyengat untuk menghancurkan istana, dan gedung-gedung yang dianggap penting. Karena ada kabar ketika itu Belanda akan mengambil alih. Makanya, walaupun belum sampai 100 tahun kesultanan Riau Lingga berakhir, istananya sudah tidak ada. Hanya puing-puing saja, kata Raja Malik menceritakan riwayat Pulau Penyengat.
 
Sumber pembiayaan tidak jelas
Kebesaran Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahaan Melayu Riau secara fisik dapat terlihat dari Mesjid Raya Penyengat yang masih berdiri kokoh. Masjid yang didirikan pada tahun 1832 Masehi oleh Yang Dipertuan Muda Raja Abdul Rahman ini memiliki kubah atau menara sebanyak 17 buah. Jumlah ini sama dengan jumlah rakaat sembahyang wajib umat Islam. Hanya tempat inilah yang saat ini masih sering dilakukan berbagai kegiatan dalam rangka menghormati budaya-budaya Melayu oleh tokoh politik di Kepulauan Riau. Di masjid ini, juga terkumpul ribuan buku yang berisikan tentang pengetahuan agama Islam yang dicetak dizamannya.
Selain masjid yang masih berdiri kokoh, ada beberapa tempat lainnya yang tiap akhir pekan menjadi objek rekreasi para wisatawan lokal dan mancanegara. Yakni, makam raja-raja atau keturunan raja-raja yang masih berada di Pulau itu. Di Pulau Penyengat ada empat kompleks makam keturunan raja yang masih berdiri dengan baik. Setiap pengunjung dari berbagai latar belakang sosial menyempatkan diri untuk menyinggahi makam-makan keturunan raja tersebut, ada yang berdoa untuk orang yang dikubur tersebut atau yang minta didoakan agar sukses dalam mencapai tujuannya.
Selain itu, ada Istana Kantor, sebuah balai pertemuan antara pengurus kerajaan yang juga masih berdiri, benteng Bukit Kursi dan beberapa tempat lainnya. Namun, seluruh peninggalan kerajaan Melayu Riau tersebut dalam kondisi yang memprihatinkan.
Walaupun dari luar terlihat berdiri dengan baik, namun jika ditelesik dengan kasat mata, bangunan tersebut dalam kondisi yang hampir roboh, atap-atap di beberapa bangunan sudah mulai terkelupas, tiang kayunya mulai lapuk. Dindingnya mulai kusam dan sampah berserakan dimana-mana.
Tidak jarang pula pasangan muda-mudi yang berkunjung ke tempat itu menggunakan beberapa sekat-sekat ruangan tertutup untuk saling mengobrol, tidak ada penjagaan secara khusus oleh keturunan kerajaan atau oleh Pemerintah Kota (Pemko) Tanjung Pinang terhadap seluruh aset-aset cagar budaya yang ada itu.
Para pengunjung tidak dipungut biayamasuk. Mereka bebas masuk dan melihat seluruh peninggalan yang ada. Pemugaran pernah dilakukan, tetapi bersifat insidentil dan tidak terencana. “Pulau ini butuh perhatian secara kontinyu,” kata Raja Malik.
Berdasarkan catatan Raja Malik, tiap akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu tidak kurang ada 500 pengunjung yang datang ke pulau ini. Bahkan, ketika hari libur pada Idul Fitri dan Idul Adha, pulau ini dibanjiri oleh kaum Muslimin yang ingin berekreasi serta menunaikan shalat di Masjid Raya Penyengat yang jumlahnya bisa mencapai 1.000 orang.
Satu-satunya pendapatan bagi Pulau ini, selain anggaran dari Pemerintah Kota (Pemko) Tanjung Pinang yang tidak pasti tiap tahunnya, persatuan pengemudi boat pancung, kapal kayu yang membawa wisatawan dari Tanjung Pinang ke Penyengat dan sebaliknya, menyisihkan beberapa rupiah per penumpang untuk Pulau Penyengat. Dari biaya sebesar Rp7.000 per orang, sekitar Rp1.000 disisihkan untuk perawatan pulau ini.
Hanya dari situ saja yang sudah pasti, sedangkan biaya dari pihak-pihak yang seharusnya bertanggungjawab, tidak jelas. Anda lihat sendiri kondisi pulau ini. Sampah berserakan. Tidak ada keinginan agar ini menjadi aset budaya yang memiliki daya jual. Padahal para pewaris tahta kerajaan hanya ingin melihat pulau ini baik, kata Raja Malik.
 
Perpustakaan
Di pulau ini juga terdapat sebuah Yayasan Indera Sakti Pulau Penyengat yang didirikan oleh almarhum Raja Hamzah Yunus, ayahanda Raja Malik, yayasan ini telah berhasil mengumpulkan seluruh catatan-catatan sejarah asli yang dicetak pada zamannya. Seperti majalah di zaman kerajaan Melayu riau, catatan ketabiban/kedokteran, catatan ilmu pengetahuan seks, dan tata bahasa yang dihasilkan oleh Raja Ali Haji. Raja Ali Haji telah diangkat sebagai salah satu pahlawan nasional dari Kepulauan Riau, selain dikenal sebagai penelur tata bahasa, Raja Ali Haji juga dikenal dengan Gurindam-nya. Raja Ali Haji merupakan salah satu anak dari Yang Dipertuan Muda kerajaan Melayu Riau.
Beberapa peneliti kerajaan Melayu baik di Singapura, Malaysia dan Belanda secara kontinyu datang ke pulau ini. Program khusus tentang Melayu dari universitas di Singapura, mewajibkan mahasiswanya datang ke pulau untuk melihat sisa-sisa kejayaan kerajaan Melayu, kata Raja Malik.
--------------ooOoo----------------

[1] Tulisan ini telah diedit seperlunya oleh redaktur www.rajaalihaji.com. Naskah asli tulisan ini dapat dilihat di http://www.hupelita.com/baca.php?id=47072.

Sejarah Perkembangan Melayu Indonesia Dengan Melayu Malaysia

Sejarah Perkembangan Melayu Indonesia Dengan Melayu Malaysia

Pada dasarnya melayu indonesia dan melayu malaysia merupakan satu suku yang sesungguhnya tidak ada bedanya ,Hanya karena penjajahanlah maka suku Melayu ini terpisah. Malaysia (dari kata Melayu) yang dijajah Inggris menjadi negara Malaysia, sementara Indonesia dari berbagai suku (termasuk Ambon dan Papua) yang dijajah Belanda jadi negara Indonesia. 
Periode Kerajaan Riau-Lingga (abad ke-18 sampai dengan abad-19 Masehi) Pada tahun 1719 Raja Kecil, dari Istana Kerajaan Johor, dipaksa memindahkan pusat kekuasaannya ke Ulu Riau, di Pulau Bintan, salah satu pulau yang bergabung dalam Kepulauan Riau. Pemindahan ini merupakan permulaan dari suatu periode dalam pengembangan dan penyebaran bahasa Melayu, yaitu periode Kerjaan Riau dan Lingga. Dalam periode inilah bahasa Melayu memperoleh ciri ke-Riau-annya, dan bahasa Melayu Riau inilah yang merupakan cikal bakal bahasa Nasional Indonesia yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. 
Periode Kerajaan Riau dan Lingga tercatat mulai tahun 1719, ketika didirikan oleh Raja Kecil, sampai dengan tahun 1913, ketika kerajaan itu dihapus oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Selama keberadaan kerajaan ini hampir 200 tahun lamanya, ada tiga momentum yang penting sekali bagi perkembangan dan persebaran bahasa Melayu Riau, yaitu tahun 1808, ketika Raja Ali Haji lahir; tahun 1857, ketika Raja Ali Haji menyelesaikan bukunya yang berjudul Bustanul Katibin, suatu tatabahasa normatif bahasa Melayu Riau; dan tahun 1894, ketika percetakan Mathba’atul Riauwiyah atau Mathba’atul Ahmadiyah didirikan. Pengoperasian percetakan Mathba’atul Riauwiyah ini sangat penting karena melalui buku-buku dan pamflet-pamflet yang diterbitkannya, bahasa Melayu Riau tersebar ke daerah lain di Kepulauan Nusantara. Yang lebih penting adalah usaha pembakuan bahasa Melayu Riau sudah dimulai. 
Selama perang antara Perancis dan Inggris yang berlangsung di Eropa, yang berakibat Negeri Belanda sempat diduduki Perancis beberapa tahun, selama itu terjadi pula perang antara kekuasaan Inggris di Asia Tenggara dan kekuasaan Belanda yang tunduk kepada {emerintah Perancis di Kepulauan Nusantara. Untuk beberapa tahun lamanya, 1819 – 1824, Pulau Jawa dan Pulau Sumatra diduduki Inggris. Salah seorang administratur Inggris yang ulung, yang pernah menjadi Gubernur Jenderal di Pulau Jawa dan Pulau Sumatra, yaitu Stamford Raffles, mendirikan Singapura pada bekas kerajaan Tumasik pada tahun 1819. Orang-orang Belanda datanga pertama kali ke Indonesia bertujuan untuk berdagang. Pada tanggal 20 Maret 1602 mereka mendirikan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) untuk melaksanakan perdagangan. VOC beroperasi di Indonesia selama hampir 200 tahun sampai tahun 1799, menyusul perusahaan itu direorganisasikan menjadi suatu pemerintahan kolonial. Belanda mulai menjajah Indonensia dengan memperoleh nama baru Nederlandsche OOst-Indie (India Belanda). 
Di sinilah, Selat Malaka, di daratan Semenanjung Malaya, kekuasaan kolonial Inggris semakin mencekamkan kukunya. Setelah jatuh ke tangan Portugis, daerah Malaka ini semakin penting perannya sebagai pusat perdagangan. Tertarik oleh kekayaan yang melimpah yang dipersembahkan oleh daerah ini kepada raja Portugis, perusahaan British Est India, yang pada saat itu masih beroperasi di anak benua India, mulai meluaskan daerah perdagangannya ke Asia Tenggara. Segeralah muncul konflik kepentingan di antara ketiga kekuasaab kolonial: Inggris, Beanda, dan Portugis. Dari sudut pengembangan dan penyebaran bahasa Melayu, konflik antara Inggrs dan Belanda sangat penting, karena konfrontasi antarakedua kekuasaan itu berakhir pada pembagian kawasan Kepulauan Nusantara menjadi dua, berdasarkan variasi bahasa Melayu yang dipergunakan di kawasan itu, yaitu bahasa Melayu Johor dan bahasa Melayu Riau. Pada 2 Februari 1819, kurang lebih tiga abad setelah orang-orang Eropa tiba di Kepulauan Indonesia, Stamford Raffles, ketika dia menjadi Letnan Gubernur Jenderal di Bengkulu, atas nama pemerintah kolonial Inggris mendirikan kota Singapura pada salah satu pulau (Tumasik) yang bergabung dalam Kepulauan Riau. Setelah benteng Singapura ini didirikan, Inggris dan Belanda berada dalam konflik bersenjata terus-menerus karena berebut kepentingan. 
Segera setelah perang Napoleon di Eropa mereda, pada tahun 1824 ditandatangani persetujuan untuk mengakhiri konflik bersenjata antara Inggris dan Belanda di Asia Tenggara. Persetujuan itu terkenal dengan nama London Treaty of 1824 (Traktat London 1824) yang membagi kawasan Kepulauan Nusantara menjadi dua bagian: Kepulauan Indonesia berada di bawah pemerintahan Kolonial Belanda dan Semenanjung Malaya dan Singapura berada di bawah kekuasaan Kolonial Inggris. 
Dengan demikian, Kerajaan Riau dan Lingga menjadi bagian dai daerah pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, dan Kerajaan Johon dan sekitarnya menjadi bagian dari daerah pemerintahan Kolonial Inggris. Mulai saat itu pula, perpisahan bahasa Melatu Riau dan bahasa Melayu Johor secara legal terjadi. Bahasa Melayu Riau yang merupakan bahasa ibu penduduk Kerajaan Riau dan Lingga dan pulau-pulau di sekitarnya, berkembang dan menyebar dengan sangat pesat, sesuai dengan keperluan masyarakat yang bersangkutan sebagai alat komunikasi lisan. 
Bahkan, sejak berlakunya Persetujuan London atau TRaktat London, bahasa Melayu Riau mendapatkan status yang baik dalam kesusastraan dunia. Berbagai karya kesusastraan yang cukup tinggi nilainya yang ditulis oleh penutur asli bahasa Melayu Riau diterbitkan. Pada tahun 1857, misalnya, Raja Ali Haji menerbitkan bukunya yang berjudul Bustanul Katibin, sebuah buku tatabahasa normatif bahasa Melayu Riau. Buku tatabahasa ini selama berpuluh-puluh tahun dipergunakan oleh sekolah-sekolah di wilayah Kerajaan Riau dan Lingga, dan di Singapura. Pengarang-pengarang lain yang sezaman dengan Raja Ali Haji, misalnya, Raja Ali Tengku Kelana, Abu Muhammad Adnan, dan lain-lain, juga menerbitkan karya mereka. Publikasi karya Raja Ali Haji dan pengarang lain dapat dianggap sebagai upaya awal dalam proses pembakuan bahasa Melayu Riau. Bahkan, pada permulaan abad ke-20 karya-karya ini dijadikan buku acuan oleh ahli-ahli bahasa Belanda. Bahasa Melayu Riau yang sedang berkembang pesat dan tumbuh dengan sehat ini oleh banyak ahli bahasa disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. 
Perkembangan bahasa Melayu versi Johor di Semenanjung Melaya dan Singapura tidak sepesat dengan perkembangan bahasa Melayu versi Riau di Kepulauan Nusantara. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya politik bahasa yang dianut oleh Inggris. Pemerintah Kolonial Inggris mengakui adanya empat bahasa resmi, yaitu bahasa Melayu, bahasa Mandarin, bahasa Tamil, dan bahasa Inggris. Keempat bahasa itu dipergunakan sebagai bahasa pengantar pada lembaga-lembaga pendidikan. Umumnya, bahasa Inggris paling dominan dipergunakan sebagai bahasa pengantar. Melayu Indonesia adalah suku Melayu yang tinggal di sepanjang Indonesia, sebagai salah satu suku asli negara pulau tersebut. Indonesia mempunyai penduduk Melayu kedua besar selepas Malaysia. 
Menurut sejarah, Bahasa Indonesia,yaitu bahasa kebangsaan Indonesia, berasal dari Bahasa Melayu yang ditutur di Riau, sebuah provinsi di Sumatra timur. Ada beberapa bilangan kerajaan Melayu di Indonesia yang meliputi pulau Sumatra dan Kalimantan, yang mana sesetengahnya yang terkenal adalah Srivijaya, Kerajaan Melayu, Kesultanan Deli, Kesultanan Johor-Riau dan Kesultanan Sambas, Di riau masih bnyak juga peninggalan dan kerajaan-kerajaan melayu seperti Siak dan Bengkalis,dapat kita lihat pada melayu di riau terutama di bengkalis melayunya sangat kental sekali dan bisa di bilang masih tulen. Beda dengan kota-kota tetangganya sudah bercampur aduk dengan suku minang sehingga bahasa melayu pun dikota tersebut mulai hilang seperti kota Dumai,Siak,Pekanbaru dan kota-kota tetangganya. 
Apakah melayu indonesia melayu bajakan???? jawabanya tidak, seperti yang saya bahas tadi melayu terpisah karena penjajah, jadi intinya melayu kita satu yang membedakan adalah dari segi bahasa yang ujung bahasa "O" dan "E". Contoh : mengapo (versi Indonesia) mengape (versi Malaysia), ada juga melayu indonesia memakai bahasa yang vokal ujungnya adalah "E" yaitu kota Bengkalis.itu pun hanya sebagian kecil, kepualauan Riau, daerah SUMUT Deli Serdang dan pada umunya melayu Indonesia memakai ujung vokalnya adalah O Pokoknya Takkan Melayu Hilang Dimuka Bumi....!!! (dari berbagai sumber artikel melayu)
 
http://www.gagasanriau.com
 

Pulau Penyengat, Pusat Kebudayaan Melayu yang Terlupakan

Pulau Penyengat, Pusat Kebudayaan Melayu yang Terlupakan

Secara Geografis, suku melayu mendiami semananjung Malaya, Pulau Sumatera serta beberapa gugusan pulau yang berada di Selat Malaka. Beberapa abad yang lalu, suku melayu pernah berjaya membentuk sebuah negeri yang besar, kerajaan yang disegani di zamannya. Sebut saja kerajaan Sriwijaya (Palembang), kerajaan Malaka (Malaysia), Kerajaan Johor (Malaysia), Kerajaan Lingga (Kepulauan Riau), Kerajaan Pattani (Pattani - Thailand) dan Kerajaan Siak (Riau). 
Identitas kemelayuan mempunyai ciri khas yang tidak bisa di pisahkan dengan identitas keislaman. Karena kepulauan Sumatera dan Malaya adalah pintu gerbang pusat perdagangan di Asia Tenggara di masa lalu, yang menghubungkan antara Cina dan India, Cina dan Timur Tengah melalui rute perjalanan laut. Jadi tidak heran jika perkembangan Islam lebih awal jika dibandingkan dengan daerah-daeral lain di nusantara.

Kerajaan Melayu Lingga terletak di Kepulauan Riau, tepatnya di Pulau Penyengat. Pulau ini adalah sebuah pulau kecil yang terletak sekitar 5 menit perjalanan laut dari pelabuhan Tanjung Pinang. Lebar pulau Penyengat tidak terlalu luas. Jalanan bagus terbuat dari semen yang bisa dilewati oleh kendaraan bermotor, yang menghubungkan setiap situs-situs sejarah yang ada dipulau tersebut. Jika berjalan kaki bisa di tempuh sekitar satu jam, dan sudah bisa mengelilingi pulau ini. Atau bisa mengelilingi pulau dengan naik ojek, yang harganya relatif murah untuk mengunjungi situs-situs bersejarah pusat peninggalan Kerajaan Melayu. 
Apa yang ada di Pulau Penyengat?
Pulau penyengat sangat indah. Karena struktur alamnya yang dikelilingi laut dan strategis, sehingga tidak heran jika Pusat Kerajaan Melayu Lingga berada disini, karena pertimbangan keamanan dimasa itu. Disini anda dapat menyaksikan secara langsung bangunan-bangunan peninggalan yang masih berdiri kokoh, baik itu Istana Kerajaan, benteng petahanan, beberapa meriam yang berhadapan langsung dengan laut, mesjid kerajaan yang masih di pakai hingga sekarang, makam Raja-raja Penyengat, situs kebudayaan melayu dan lain-lain. Mesjid kerajaan terletak tepat di depan dermaga, seakan-akan dia yang akan menyambut kedatangan sesorang. Mesjid ini strukturnya sangat kokoh, dengan lebar semua dindingnya setebal sekitar 30 cm. konon menurut sejarah, mesjid ini terbuat dari kuning telur sebagai perekat. Mesjid inilah, salah satu bangunan yang masih terpakai hingga sekarang.
Tapi sayang, bangunan-bangunan yang menyimpan beribu sejarah perkembangan kebudayaan melayu kelihatan tidak terurus. Beberapa bangunan dibiarkan ditumbuhi rumput menjalar dan hancur begitu saja. Bahkan beberapa situs bangunan tinggal puing-puing saja. Ada yang roboh dimakan usia, tidak ada usaha perbaikan dari pihak terkait. Tetapi walaupun begitu, kita bisa melihat keperkasaan dan kemegahan Kebudayaan Melayu Lingga pada situs-situs yang masih berdiri kokoh, seperti Istana, benteng pertahanan, tempat tinggal kaum bangsawan, meriam, kuburan raja-raja, mesjid dan lain-lain. 
“Melayu negeri seribu pantun”. 
Memang melayu identik dengan pantun. Dari sejarah, kita tidak bisa melepaskan satu nama besar yang memelopori perkembangan kebudayaan melayu terkenal ke Nusantara, dunia, hingga ke Timur Tengah saat itu, bahkan kebudayaan baik bangunan dan syair-syair pantun masih bisa dilihat dan terdengar hingga sekarang. Nama itu adalah Raja Ali Haji. Raja Ali Haji, merupakan keturunan bangsawan asal Bugis. 
Dia merupakan seorang raja, dan juga budayawan. Hasil karyanya yang monumental hingga saat ini masih bisa dinikmati adalah “Gurindam Dua belas” dan Pengenalan Aksara Jawi (tulisan arab melayu). 
Gurindam Dua Belas adalah syair-syair pantun yang berisikan nasihat-nasihat yang kental dengan nuansa Islami. Aksara Jawi (Tulisan Arab Melayu) adalah hasil karyanya yang masih bertahan hingga sekarang dan masih diajarkan sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah di Riau Daratan dan Kepulauan Riau. 
Aksara ini menggunakan aksara arab yang di ubah sedemikian rupa hingga bisa membunyikan huruf sesuai dengan bahasa melayu, karena aksara jawi ini berbahasa melayu. Selintas kita akan melihat tulisan ini adalah tulisan arab, tapi bahasa yang dipakai adalah bahasa melayu. Sehingga syarat untuk bisa membacanya adalah mengetahui aksara arab dan menguasai bahasa melayu. Gurindam Dua Belas yang aslipun menggunakan aksara jawi ini. 
Sungguh sangat disayangkan, pusat dan peninggalan Kebudayaan Melayu seakan hilang dan ditelan zaman. Jangankan mengembangkan, menjaganya pun seakan kita tidak sanggup. Akankah dia hilang terkubur waktu ??
Syair-syair pantun yang syarat dengan hikmah keteladanan, kebijaksanaan, pendidikan dan lain-lain seakan sebuah barang yang asing bagi kita.(Kaskus.com )
 

Senin, 06 Februari 2012

Hikayat Hang Tuah Analisis Struktur dan Fungsi


Hikayat Hang Tuah Analisis Struktur dan Fungsi

Ketika kita membincangkan tema sastra, hal pertama kali yang teringat adalah pandangan Plato mengenai sastra. Menurut Plato, sastra hanyalah mimesis, tiruan atau gambaran dari kenyataan. Artinya, yang diekspresikan dalam karya sastra adalah kenyataan yang kurang, padahal yang ingin dicapai orang adalah ide-ide yang ada di balik kenyataan tersebut. Seniman itu – karena sifat pekerjaannya – demi keberhasilannya, terpaksa menonjolkan sifat-sifat rendah manusia. Seninya tidak bertujuan untuk menonjolkan segi rasional jiwanya, yaitu sifat manusia yang paling luhur. Jika seni bermaksud demikian, maka berarti seni hanya meningkatkan nafsu yang sebenarnya harus ditekan. Berdasarkan tiga keberatan di atas, maka sastra tidak perlu dipandang sungguh-sungguh untuk mencapai kebenaran (D. Daiches, 1956).

Berbeda dengan Plato, Aristoteles memandang sastra secara lebih positif. Aristoteles menganggap bahwa sastra justru merupakan kegiatan utama manusia untuk menemukan dirinya di samping kegiatan lain seperti agama, ilmu pengetahuan, dan filsafat. Karena itu, sastra layak untuk diapresiasi sehingga muncullah pemahaman atas karya sastra sebagai a unified whole. Artinya, bahwa seluruh bagian dalam karya sastra merupakan bahan organik pembangun hasil seni itu. Dalam mengkaji sastra, maka kajian struktur adalah penting untuk mengetahui arti keseluruhan karya sastra tersebut. Dalam konteks ini, maka sastra perlu untuk dikaji dan dipelajari.

Buku karangan Prof. Dr. Sulastin Sutrisno ini adalah salah satu buku yang mencoba mengkaji salah satu karya sastra terbesar Melayu, yaitu Hikayat Hang Tuah (HHT), dari sisi struktur dan fungsi. Kajian struktur dan fungsi bertujuan untuk mencari unsur terdalam dalam sebuah karya sastra. Dalam bidang antropologi dan sastra, kajian ini banyak memakai epistimologi struktural fungsional. Seperti dikatakan oleh Prof.Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra dalam pengantar buku ini, buku karya Prof. Dr. Sulastin Sutrisno ini merupakan kajian sastra yang serius, namun sayangnya justru analisis tentang struktural fungsional itu sendiri tidak ada. Untuk itu, pembaca sebaiknya memahami dahulu apa itu struktural fungsional sebelum lebih jauh membaca buku ini.
Hikayat Hang Tuah dalam Kajian yang Sudah Ada

Hikayat Hang Tuah (HHT) dikenal sebagai salah satu karya sastra tradisional Melayu. HHT sudah dikenal sejak lama oleh para pengkaji sastra di dunia. HHT secara umum mengisahkan tentang sosok Hang Tuah. Hang Tuah adalah tokoh penting dalam alam pikiran orang Melayu. Ungkapan paling terkenal yang konon yang berasal dari Hang Tuah adalah “Tak Kan Melayu hilang di dunia”. Dalam HHT, Hang Tuah diceritakan berlayar mengelilingi dunia dari Indonesia hingga Madagaskar, Afrika. Berdasarkan perjalanan Hang Tuah inilah, puak-puak Melayu meyakini bahwa suku Melayu juga tersebar dari Indonesia hingga Madagaskar, Afrika.

Sebagai sebuah karya sastra Melayu, HHT telah menjadi bahan kajian dari berbagai disiplin ilmu, baik oleh ahli sastra dari luar maupun ahli dari puak Melayu sendiri. Kajian-kajian tersebut memiliki sudut pandang yang berbeda-beda sehingga menghasilkan pandangan yang berbeda-beda pula.

Nama HHT konon pertama kali didengungkan oleh pendeta Belanda yang bernama Francois Valentijn dalam bukunya Oud en Niuews Oost-Indien (1726) yang terdiri dari tujuh jilid. Pada jilid V, dalam lukisannya tentang Malaka, dia menyebutkan sebuah karya Melayu yang indah yang bernama Hikayat Hang Tuah. Namun, dalam buku ini HHT disalahartikan dengan kitab Sulalatus Salatin (sultan-sultan Malaka), yaitu nama lain untuk Sejarah Melayu. Hal yang sama juga dilakukan oleh G.H. Werndly, seorang pendeta Swiss. Menurutnya, Hang Tuah adalah pengarang buku sejarah Melayu dan Iskandar Zulkarnain adalah nenek moyang raja-raja Melayu.

Pada tahun 1854, E. Netscher menolak anggapan tentang HHT sebagai karangan sejarah. Baginya, HHT adalah sebuah roman yang amat penting, yang menampilkan tata cara hidup Melayu beberapa abad yang lalu. Sementara itu, peneliti Inggris yang bernama John Eyden menyebut HHT sebagai roman sejarah yang di dalamnya fiksi dan data sejarah tercampur.

Dalam buku History of Indian Archipelago (1820), John Crawfurd menganggap HHT sebagai cerita yang tidak masuk akal dan kekanak-kanakan. HHT hanya bernilai ketika mengisahkan tentang budi pekerti dan cara hidup orang Melayu. Sementara itu, seorang ahli bahasa dan sastra Melayu dari Rusia yang bernama B. Parnickel, dalam buku An Epic Hero and: an Epic Traitor in the Hikayat Hang Tuah, menganggap HHT sebagai karya sastra hasil masyarakat feodal. Baginya, pada awalnya Hang Tuah adalah pahlawan rakyat yang membela kepentingan kalangan kelas menengah melawan Raja yang lalim. Buku tersebut kemudian jatuh ke tangan ke kelas feodal dan diubah sesuai kepentingan kaum feodal.

Dalam buku A study of Genre: Meaning and Form in The Malay Hikayat Hang Tuah (1975), dan dalam kertas kerjanya berjudul Some Comments on Style in The Meaning of The Past (1976), Erington memandang HHT sebagai sejenis karya sejarah dalam hal menyimpan peristiwa-peristiwa sejarah, terutama adanya pengiriman utusan Melayu ke Rum untuk membeli senjata dan peristiwa penaklukan Malaka oleh Portugis.

Para peneliti dari puak Melayu memandang HHT dengan cara yang beragam pula. Sebagian besar menganggap karya ini sebagai karya fiksi. Pandangan ini disampaikan oleh Abdul Azis Mone (1972) dalam buku Hikayat Hang Tuah dalam Kesusasteraan Indonesia Lama. Pandangan serupa juga diungkapkan oleh Abdul Ghani Suratman (1963) dalam buku Hikayat Hang Tuah dalam Bidang Sastera Melayu Lama, Anas Haji Ahmad (1962) dalam buku Kenapa Hikayat Hang Tuah bukan Satu Penulisan sejarah?, dan MD. Zahari bin Md. Zain (1970) dalam buku Persamaan dan Perbedaan antara Hikayat Hang Tuah dan Sejarah Melayu.

Ada pula peneliti yang memandang HHT sebagai karya sejarah. Pandangan ini diungkapkan antara lain oleh Abdul Khadi Ahmad 1963 dalam buku Hang Tuah Sebenarnya Ada Hidup - Buku Sejarah Melayu menjadi Buktinya, Ahmad Sarji Abdul Hamid (1960) dalam buku Hang Tuah dalam Hikayat Hang Tuah dan Sejarah Melayu, dan Abu Hasan Syam (1976) dalam buku Wanita dalam HHT: Imej Wanita dalam Hikayat Hang Tuah. Ada juga peneliti yang lain mengklasifikasikan HHT sebagai karya sastra dengan kategori “karya sastra lain”. Pandangan ini disampaikan oleh Abu Hasan Sham (1976) dalam buku Perbandingan antara Hikayat Hang Tuah dan Hikayat Inderaputera dan Nilai-nilia Tradisional dalam HHT. Nilai-nilai Masyarakat Melayu Tradisional dilihat dari Hikayat Hang Tuah.

Kassim Ahmad dari Universitas Malaya dalam buku teks Hikayat Hang Tuah (1964) menganggap bahwa HHT bukan karya sejarah melainkan karya sastra Melayu asli yang melahirkan cita-cita dan kebesaran bangsa Melayu. Menurut Kassim Ahmad, pengarang HHT tidak mempedulikan tata tertib sejarah. Dia hendak menciptakan manusia Hang Tuah yang luar biasa.

HHT memang merupakan sebuah karya sastra yang besar dan penting untuk dikaji jika kita melihat berbagai kajian di atas. Kesimpulan yang beragam tentang HHT justru menunjukan bahwa HHT ikut melambungkan kebudayaan Melayu sebagai kebudayaan besar dunia.
Hikayat Hang Tuah di Mata Sulastin Sutrisno

Pada akhir kajiannya, Sulastin Sutrisno menyatakan bahwa dari segi tradisi dan pembaharuan, HHT mengandung sifat-sifat roman modern. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa teks HHT yang panjang dan berbentuk prosa itu mengisahkan seluruh kehidupan pelaku-pelakunya dengan segala untung malangnya, pada segi kehidupan jiwanya, cita-citanya, jalan pikirannya, sikapnya dan sebagainya, dalam ruang dan waktu tertentu. Pelaku-pelakunya terdiri atas orang-orang yang berbicara, bukan dewa-dewa atau jin dan peri (hal 343).

Pernyataan Sulastin Sutrisno di atas dikaitkan dengan hasil kajiannya yang menemukan bahwa HHT secara umum mengandung sifat roman karena dua hal. Pertama, peranan tokoh utama yang tidak dimainkan atas nama pribadinya sendiri. Artinya, sepanjang cerita HHT, tokoh Hang Tuah lebih merepresentasikan manusia Melayu dalam tanah Melayu yang dicita-citakan. Kedua, jika dalam cerita roman umumnya cerita cinta ditonjolkan, maka tidak demikian halnya dengan HHT. Unsur umum cinta tidak tumbuh subur dalam HHT. Akan tetapi “cerita cinta” yang dimunculkan justru ketegangan dalam episode Tun Teja yang menegaskan tentang kesetiaan seorang Hang Tuah sebagai hamba kepada rajanya.

HHT di mata Sulastin Sutrisno justru komplit, yaitu tetap kuat unsur tradisionalnya namun juga memuat nilai-nilai internasional sebagai sebuah roman. Untuk itu, HHT layak untuk mendapat tempat dalam ilmu sastra dan menjadi warga sastra dunia. Lebih lanjut, jika kita mencermati pernyataan di atas, usaha Sulastin Sutrisno dalam menulis buku ini patut untuk diapresiasi, bahkan beliau pantas untuk dihormati sebagai salah seorang tokoh Melayu meskipun beliau berasal dari suku Jawa. Apapun kesimpulannya, kajian ini mengajarkan kepada kita semua bahwa HHT sebagai sebuah karya sastra Melayu dapat dijadikan sebagai media untuk memahami kebudayaan Melayu yang penuh warna.


Penulis :Prof. Dr. Sulastin Sutrisno
Editor : Prof. Heddy Sri Ahimsa-Putra, M.A. M.Phill.Ph.D. dan Mahyudin Al Mudra, S.H., M.M
Penerbit : Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Sumber: adicita.com/resensi/detail/id/94/Hikayat-Hang-Tuah-Analisis-Struktur-dan-Fungsi

Syair Nasib Melayu


Syair Nasib Melayu

Perhatian Tenas Effendy terhadap khazanah warisan budaya Melayu tidak diragukan lagi. Perhatian tersebut telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi peradaban manusia, terutama peradaban Melayu di Nusantara. Dalam karya-karyanya, Tenas selalu menekankan pentingnya menjaga identitas Melayu dengan berpegang teguh pada nilai-nilai luhur budaya lokal, karena nilai-nilai tersebut senafas dengan prinsip-prinsip ajaran agama Islam. Agaknya, dasar pemikiran inilah yang mendorong Tenas begitu ulet mengkaji kebudayaan Melayu, khususnya Melayu Riau dan Kepulauan Riau.

Banyak sudah buah karya Tenas yang telah dipublikasikan dan menjadi bahan rujukan di kalangan peneliti dan pecinta budaya Melayu. "Syair Nasib Melayu" adalah salah satu karyanya yang cukup bagus. Melalui buku ini, Tenas menuangkan pandangan-pandanganya terhadap Melayu modern tanpa melupakan realitas sejarah Melayu itu sendiri.

Realitas modern menciptakan persoalan-persoalan baru yang sangat kompleks di tengah masyarakat, mulai dari penetrasi kapitalisme global, kualitas pendidikan dan pengetahuan yang rendah, kerusakan moral, keterbatasan lahan pekerjaan, sampai kepada kerusakan lingkungan. Semua persoalan itu bagaikan benang kusut yang sangat sulit untuk diuraikan kembali. Masyarakat tidak tahu bagaimana harus menyelesaikan persoalan-persoalan yang mereka hadapi itu. Fenomena ini sangat memilukan. Tenas Effendy mengakui bahwa kondisi semacam itu mempengaruhi cara pandang orang-orang Melayu terhadap sejarah dan budayanya.

Mungkin atas dasar itulah "Syair Nasib Melayu" ditulis. Syair ini berisikan refleksi penulisnya terhadap fenomena dan problematika Melayu masa kini. Misalnya perihal penyebab dari kemunduran awal Melayu modern, yang menurut Tenas dikarenakan ketertutupan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan modern, sebagaimana dituliskan dalam syair berikut ini: (bait 49, 50, 53)

Di bumi Melayu pembangunan pesat
Baik di laut maupun di darat
Banyak peluang boleh didapat
Banyak usaha boleh dibuat

Tetapi karena ilmu tak ada
Peluang yang ada terbuang saja
Diisi orang awak menganga
Akhirnya duduk mengurut dada
.........
Disinilah tempat Melayu jatuh
Karena banyak yang masih bodoh
Peluang yang dekat menjadi jauh
Nasib pun malang celaka tumbuh

Syair di atas mengisyaratkan bahwa ketika orang lain telah mencapai kemajuan dalam berbagai bidang, orang Melayu justru hanya berdiam diri atau berjalan di tempat. Padahal, jika saja mereka punya kemauan untuk membuka lembaran sejarah Melayu, maka banyak hal yang dapat dipelajari dan dipetik hikmahnya, serta menjadikan sejarah itu sebagai pedoman dalam membangun masa depan. Untuk membangun masyarakat yang terbuka, kuat dan demokratis, suatu masyarakat harus mempertahankan warisan sejarah dan budaya yang baik, dan pada saat yang sama mengadopsi hal-hal baru dari luar yang lebih baik. Masyarakat Melayu Riau pada kenyataannya kurang membuka diri terhadap kemajuan dan perkembangan modern karena mereka terlalu silau terhadap warisan sejarah dan budayanya, sehingga terbuai dengan masa lalunya.

Tenas cukup memahami karakter masyarakat Melayu Riau yang cenderung “pemalas”. Sifat inilah yang membawa mereka pada keterpurukan dalam berbagai aspek kehidupan modern. Dalam syairnya Tenas menulis (bait 94):

Walau Melayu bertanah luas
Tetapi terlantar karena malas
Dimanfaatkan orang awak pun cemas
Lambat laun semuanya lepas.

Di bagian akhir syairnya, Tenas menjelaskan secara detil karakter- karakter lain orang Melayu Riau. Meminjam perkataan Mahyudin Al Mudra, pemangku Balai Melayu Yogyakarta, Tenas cukup jujur dalam menilai karakter orang Melayu.

Dalam syair ini, tidak lupa pula Tenas memberikan sugesti kepada generasi-generasi muda Melayu sebagai pewaris kebudayaan, seperti termaktub dalam syair di bawah ini (bait 255 dan 256):

Ke generasi muda kita berharap
Kuatkan semangat betulkan sikap
Kokohkan iman tinggikan adab
Supaya Melayu berdiri tegap

Ke generasi muda kita berpesan
Hapuslan sifat malas dan segan
Isilah diri dengan ilmu pengetahuan
Supaya Melayu tidak ketinggalan

Karya sastra yang diselesaikan pada tahun 1990 ini merefleksikan pandangan-pandangan penulisnya. Dalam buku ini, Tenas banyak memotret kondisi sosial dan budaya masyarakat Melayu Riau sebelum tahun 1990. Meskipun demikian, bila dicermati secara mendalam, syair-syair tersebut masih memiliki relevansi dengan kondisi sekarang, karena proses penulisannya berlangsung dalam sebuah kondisi yang tidak jauh berbeda dengan kondisi saat ini.

Sebagai karya sastra, "Syair Nasib Melayu" masih menampilkan gaya penulisan tradisi sastra kuno, tanpa melepaskan gaya modernnya. Beberapa bait di atas adalah salah satu contohnya. Inilah salah satu unsur yang membuat karya sastra ini begitu nikmat untuk dibaca dan diresapi. Selain itu, gaya kritik sosial yang dibangun, menurut penilaian Al Azhar, dalam prakatanya, mirip dengan sejumlah syair “Lingkaran Penyengat”, seperti Syair Lebai Guntur, Syair Awai, Syair Kadamuddin, dan lain sebagainya. Dengan diterbitkannya karya ini, telah bertambah khazanah kesusastraan Melayu.

"Syair Nasib Melayu " menjadi penting di kalangan peneliti dan pencinta budaya Melayu karena memuat gambaran utuh namun ringkas tentang sejarah, karakter, dan tantangan Melayu di masa depan. Tanpa bermaksud untuk berlebihan, bagi orang Melayu sendiri, hadirnya karya sastra ini ibarat cermin datar yang menjalaskan realita secara apa adanya, baik kelebihan maupun kekuranganya.

Penulis : Tenas Effendy
Penerbit : BKPBM dan Adicita, Yogyakarta
Sumber: http://www.adicita.com/resensi/detail/id/85/Syair-Nasib-Melayu

Pramuka SMA Negeri 1 Singkep Barat Raih Prestasi Gemilang di Kemsar Budaya 2025

  Pramuka SMA Negeri 1 Singkep Barat Raih Prestasi Gemilang di Kemsar Budaya 2025 Lingga — Regu Pramuka SMA Negeri 1 Singkep Barat meno...